Rabu, 29 April 2026

Blog Pengganti Media Cetak

KANDAS

Oleh : Rina Mahfuzah

Daun-daun tidak lagi menggelayut manja

pada ranting pohon

rerumputan tidak lagi basah oleh air hujan

hutan tempat kita bercengkerama

pun tak lagi menyimpan segala keteduhan

ke mana hilangnya semburat kebahagiaan

pada wajah bulan?

dan kenapa kita mesti sibuk

menghitung kelalaian kita sendiri?

mungkin sudah tidak ada kemanisan

lagi yang tersisa buat kita

sayangnya kita terlalu lama menyadari

JANJI MATAHARI

Oleh : Rina Mahfuzah

Kalau sehari saja dalam tiga ratus enam puluh lima hari

matahari tidak memenuhi janji pada bumi

mana mungkin malam akan berganti pagi?

bagaimana alam akan menjawab pertanyaan warga bumi?

Kalau saja kau dapat seperti matahari

yang selalu setia memegang janji

mana mungkin cinta ini bisa berubah jadi benci?

AKU INGIN MENULIS LAGI

Oleh : Rina Mahfuzah Nst

Aku masih duduk diam di sini

di antara kertas-kertas yang bergolek gelisah

dan pena yang membisu

menanti aku cepat bertindak

mungkin mereka telah menunggu sejak lama

kepastian akan nasib mereka selanjutnya

Kertas-kertas dan pena ini

mungkin telah menyusun rencana untuk berdemonstrasi

karena hati nurani mereka sudah tidak didengar lagi

Kini aku tak lagi hanya diam di sini

ingin kupecahkan segala kebekuan ini

aku ingin berdamai dan kompromi

maka mendekatlah aku pada mereka

Kami pun berdialog

setelah melalui negosiasi yang alot

akhirnya terciptalah puisi ini

SALAM PERPISAHAN SEORANG SEKRETARIS PADA DIREKTURNYA

Oleh : Rina Mahfuzah Nst

Pak, jangan marah padaku

bila hari ini jadi hari terakhir untukku

menempati meja pertama sebelah kiri

di lantai dua gedung kantor ini

tempat aku merajut hari-hari penuh warna

bersamamu dan yang lainnya

Terima kasih adalah ungkapan yang belum cukup

untuk segala yang telah kudapatkan

simpanlah kenangan kita pada

catatan rapat, keyboard komputer, mesin tik elektronik,

PABX Telephone, Facsimile, File Proyek, dialog pagi,

alunan suara Ebiet G. Ade, argumentasi dan negosiasi

Namun ada satu hal yang tidak akan pernah

kulupa tentangmu, Pak

beratus rambut putih yang memenuhi kepalamu

yang sering kucuri pandang bila kau sedang marah

ORANG KETIGA

Oleh : Rina Mahfuzah Nst

Ada yang tak jelas di antara kita

lalu kita membahasnya berdua

bukan jalan keluar yang tercipta setelahnya

malah pertengkaran yang melanda kita

kau tuding akulah penyebabnya

aku pun bilang kaulah yang bersalah

bibit kebencian makin meraja di hati kita

kita mati-matian mencari kebenaran di mana-mana

sementara orang ketiga dan selebihnya

bertepuk tangan di belakang kita

KERTAS KOSONG

Oleh : Rina Mahfuzah Nst

Bila aku diam, bukan berarti marah

atau sedang malas bicara

bila aku pergi, bukan karena ingin menjauh

aku ingin menuliskan sesuatu tentangmu

di selembar kertas kosong ini

tapi hatiku masih saja diliputi rasa sakit dan benci

aku ingin kau tahu semua isi hatiku

lewat apa yang kutulis

tapi aku tak tahu harus memulai dari mana

pikiranku buntu dan hatiku kosong

aku tak tahu kenapa

KANDAS

Oleh : Rina Mahfuzah

Daun-daun tidak lagi menggelayut manja

pada ranting pohon

rerumputan tidak lagi basah oleh air hujan

hutan tempat kita bercengkerama

pun tak lagi menyimpan segala keteduhan

ke mana hilangnya semburat kebahagiaan

pada wajah bulan?

dan kenapa kita mesti sibuk

menghitung kelalaian kita sendiri?

mungkin sudah tidak ada kemanisan

lagi yang tersisa buat kita

sayangnya kita terlalu lama menyadari

JANJI MATAHARI

Oleh : Rina Mahfuzah

Kalau sehari saja dalam tiga ratus enam puluh lima hari

matahari tidak memenuhi janji pada bumi

mana mungkin malam akan berganti pagi?

bagaimana alam akan menjawab pertanyaan warga bumi?

Kalau saja kau dapat seperti matahari

yang selalu setia memegang janji

mana mungkin cinta ini bisa berubah jadi benci?

AKU INGIN MENULIS LAGI

Oleh : Rina Mahfuzah Nst

Aku masih duduk diam di sini

di antara kertas-kertas yang bergolek gelisah

dan pena yang membisu

menanti aku cepat bertindak

mungkin mereka telah menunggu sejak lama

kepastian akan nasib mereka selanjutnya

Kertas-kertas dan pena ini

mungkin telah menyusun rencana untuk berdemonstrasi

karena hati nurani mereka sudah tidak didengar lagi

Kini aku tak lagi hanya diam di sini

ingin kupecahkan segala kebekuan ini

aku ingin berdamai dan kompromi

maka mendekatlah aku pada mereka

Kami pun berdialog

setelah melalui negosiasi yang alot

akhirnya terciptalah puisi ini

SALAM PERPISAHAN SEORANG SEKRETARIS PADA DIREKTURNYA

Oleh : Rina Mahfuzah Nst

Pak, jangan marah padaku

bila hari ini jadi hari terakhir untukku

menempati meja pertama sebelah kiri

di lantai dua gedung kantor ini

tempat aku merajut hari-hari penuh warna

bersamamu dan yang lainnya

Terima kasih adalah ungkapan yang belum cukup

untuk segala yang telah kudapatkan

simpanlah kenangan kita pada

catatan rapat, keyboard komputer, mesin tik elektronik,

PABX Telephone, Facsimile, File Proyek, dialog pagi,

alunan suara Ebiet G. Ade, argumentasi dan negosiasi

Namun ada satu hal yang tidak akan pernah

kulupa tentangmu, Pak

beratus rambut putih yang memenuhi kepalamu

yang sering kucuri pandang bila kau sedang marah

ORANG KETIGA

Oleh : Rina Mahfuzah Nst

Ada yang tak jelas di antara kita

lalu kita membahasnya berdua

bukan jalan keluar yang tercipta setelahnya

malah pertengkaran yang melanda kita

kau tuding akulah penyebabnya

aku pun bilang kaulah yang bersalah

bibit kebencian makin meraja di hati kita

kita mati-matian mencari kebenaran di mana-mana

sementara orang ketiga dan selebihnya

bertepuk tangan di belakang kita

KERTAS KOSONG

Oleh : Rina Mahfuzah Nst

Bila aku diam, bukan berarti marah

atau sedang malas bicara

bila aku pergi, bukan karena ingin menjauh

aku ingin menuliskan sesuatu tentangmu

di selembar kertas kosong ini

tapi hatiku masih saja diliputi rasa sakit dan benci

aku ingin kau tahu semua isi hatiku

lewat apa yang kutulis

tapi aku tak tahu harus memulai dari mana

pikiranku buntu dan hatiku kosong

aku tak tahu kenapa

Cerpen

IBU, AKU JATUH CINTA LAGI…

Oleh : Rina Mahfuzah Nst

Tidak ada tempat yang lebih aman, dari hati seorang ibu. Tidak ada kelembutan, selain perhatian ibu. Bagai seorang prajurit yang mengalami kekalahan dalam arena peperangan, aku kembali ke rumah ibu. Aku telah gagal membina mahligai rumah tangga. Aku merasa, bila suasana hati sudah tidak dapat berkompromi lagi, untuk apa mesti bertahan? Kenapa harus takut menempuh jalan perceraian? Ini resiko besar yang harus kuterima dengan lapang dada.

Aku tahu ini semua tidak mudah. Bukan seperti membalikkan telapak tangan dan mengucap bim sala bim. Semua permasalahan selesai. Sebaliknya, dampak perceraianku mempengaruhi perasaanku. Tak bisa kupungkiri kesedihan dan kekecewaanku. Acapkali aku menangis seorang diri di dalam kamar. Entah apa yang kutangisi, aku sendiri tak mengerti.

Di depan ibu dan orang-orang di sekitarku, kuperlihatkan wajah yang selalu dilumuri senyum dan keceriaan. Padahal jauh di lubuk hatiku, aku sering merasa sebaliknya. Aku merasa ada yang hilang dari diriku, dari hidupku. Bahkan di tengah keramaian, kesunyian sering menyergapku. Membuat ingatanku terlempar ke masa lalu. Masa indah yang pernah aku kecap bersama Ilham, tapi berakhir dengan cepat.

Aku jadi tak menyukai hadir di acara-acara pernikahan. Aku merasa berat sekali mau melangkah ke sana. Padahal dulunya aku tak begitu. Syukurlah ibu tak memaksaku, ia membiarkan aku memilih hanya berdiam di rumah.

Aku juga bertekad tak ingin jatuh cinta lagi. Aku akan menutup rapat-rapat hatiku. Perhatian dan kasih sayangku kuberikan hanya buat Faiz. Dia satu-satunya yang dapat mencairkan kebekuan hatiku. Merubah suasana perasaanku jadi tenang dan damai.

Dua tahun telah kujalani kehidupan sebagai Single Parent. Menjadi ibu sekaligus ayah bukan pekerjaan mudah. Banyak hal yang mesti kubenahi dalam hidupku. Bagaimana mengatur keuangan. Mengurus dan mendidik anak. Aku belajar menjadi sebuah pribadi yang dapat mengatasi semuanya dengan tegar.

Aku bekerja di sebuah perusahaan. Di saat bekerja, kucurahkan segala perhatian untuk pekerjaanku. Ia sangat berarti buatku, membuatku tidak terlalu memikirkan kepahitan yang melanda hidupku. Namun bagaimana pun letihnya menjadi seorang single parent, tak pernah terasa di saat menjalankannya, kecuali saat sudah terbaring di tempat tidur.

Untuk kesekian kali, ibu menyinggung tentang kesendirianku. Ibu ingin aku mencari seorang pendamping lagi.

“Nisa, sudah dua tahun kau hidup sendiri. Tak sepantasnya beban hidup kau tanggung sendiri. Bukalah hatimu untuk laki-laki lain, untuk menggantikan posisi Ilham yang telah hilang dalam hidupmu,”

“Rasanya Nisa trauma mau menikah lagi, Bu. Takut akan gagal lagi,”jawabku.

“Waktu mau menikah dengan Ilham, kau terburu-buru. Padahal sudah ibu ingatkan. Dia kurang tepat untukmu. Selanjutnya berhati-hatilah. Jangan sampai kehilangan tongkat sampai dua kali. Perluas pergaulanmu, ikutilah berbagai acara. Jangan hanya diam menunggu. Ingat, anakmu makin besar. Ibu khawatir, nanti dia tidak suka kau menikah lagi, karena sudah terbiasa denganmu,”kata Ibu panjang lebar.

Kupandangi anakku yang sedang tertidur pulas di sampingku. Di malam seperti ini, wanita lain mungkin sedang bercengkrama dengan suaminya. Sementara aku melewati malam dengan kesunyian. Entah kapan semua ini akan berakhir. Aku tak tahu apakah aku bisa jatuh cinta lagi, setelah apa yang kualami bersama Ilham?

. ***

Aku berkenalan dengan seorang laki-laki bernama Arman. Usianya empat puluh tujuh tahun. Perawakannya tinggi, dengan warna kulit agak gelap. Ia sudah menduda lima tahun, tanpa kehadiran seorang anak. Di sekeliling kepalanya telah ditumbuhi rambut putih. Tapi penampilannya masih parlente. Gaya bicaranya seperti layaknya lelaki muda. Mungkin karena dia orang yang sering bergaul, makanya dia mudah berkomunikasi dengan orang lain.

Ia barusan pamitan. Berlalu dari hadapanku. Tanpa kesan yang dalam di hatiku. Tadinya kami mengobrol seputar pekerjaan, anak, sampai kegagalan kami membina rumah tangga. Bang Arman, begitu aku memanggilnya, berjanji akan datang kembali ke rumah, dalam waktu dekat.

Kedatangan bang Arman memang berlanjut. Seringkali kehadirannya memancing rasa ingin tahuku, tentang siapa dan bagaimana dia sebenarnya. Sebagai wanita yang pernah dikecewakan lelaki dalam membina rumah tangga, sulit buatku untuk cepat percaya lelaki lagi. Entah kenapa bayangan buruk selalu menghantuiku.

“Nisa, ibu lihat sikap Arman baik. Tapi perlahan-lahan kamu bisa selidiki siapa dia sebenarnya,”kata ibu mengingatkanku.

“Ya..Bu. Nisa akan selalu ingat pesan ibu,”jawabku mantap.

Aku minta bantuan Kurnia, pemuda yang telah menjembatani perkenalanku dengan bang Arman. Kurnia teman Aldy, adik lelakiku yang telah menikah dan tinggal di kota lain. Dia mengenal Arman karena perusahaan mereka masih terlibat kerjasama. Tak lama aku sudah mendapatkan info lengkap perihal bang Arman.

Bang Arman bukanlah lelaki yang jujur, terutama perihal masa lalunya. Ternyata dia sudah menikah tiga kali! Masalah yang dihadapi dalam tiga perkawinannya nyaris sama. Bang Arman, pria kasar dan tidak bertanggung jawab. Satu hal yang sangat tidak mengesankan wanita, bang Arman tidak bisa melakukan hubungan intim seperti layaknya seorang suami kepada isterinya! Tuduhan perselingkuhan sudah biasa ia tujukan pada isterinya, untuk menutupi kesalahannya sendiri. Padahal isterinya meninggalkannya bukan karena berselingkuh, tapi karena sudah tak tahan hidup bersamanya.

Aku berterima kasih pada Kurnia, untuk informasi yang telah ia dapatkan. Aku tidak perlu merasa kecewa karena hal itu. Karena dari awal pun aku tak menyukai Arman. Kuanggap perkenalan itu sebagai hal yang wajar saja.

Sabtu sore aku mengajak Faiz ke mal. Sewaktu asyik melihat-lihat baju untuk se-umurannya, aku kehilangan jejaknya. Kucari dia di antara baju-baju yang bergelantungan, sambil memanggil namanya. Tak ada sahutan, apalagi ditandai kemunculannya. Kemana dia? Jantungku berdegup kencang. Keringat menetesi keningku. Hampir saja aku menangis, menyesali diri begitu saja melepaskan pengawasan terhadapnya.

“Mama…!”tiba-tiba muncul anakku bersama… Kurnia. Tentu saja Faiz sudah sangat mengenal Kurnia, karena pemuda itu sudah sering berkunjung ke rumah.

“Kurnia… Kamu ada di sini juga? Sama siapa? Pacarmu mana?”kagetku.

“Faiz, lain kali jangan jauh-jauh dari mama, sayang. Mama sampai bingung mencari kamu,”alihku pada Faiz. Kurangkul dan kuusap kepalanya.

“Aku sendirian, Mbak. Capek kerja, pengen jalan-jalan,”jawab Kurnia.

Mal di waktu sore, hari sabtu pula. Bisa dipastikan sedang ramai. Sepanjang jalan, Faiz tak lepas dari gendongan Kurnia. Kami berhenti di sebuah café. Memilih tempat duduk di sudut, menghadap ke luar jendela.

Ini kali pertama aku berada satu meja dengannya. Duduk berhadapan. Tak kupungkiri hatiku jadi sedikit berbeda. Selama ini kami tidak pernah canggung ketika harus mengobrol di rumah, tapi kali ini seperti ada yang berbeda.

Pesanan datang, kami pun makan sambil meneruskan obrolan. Kurnia bercerita, hubungannya dengan pacarnya telah berakhir. Aku terkesiap. Berarti selama ini, di saat perasaannya sedang kecewa, dia malah sibuk mencari informasi tentang bang Arman.

“Bagi saya tidak ada masalah kok, Mbak. Saya malah senang bisa membantu mbak. Lagipula yang mengenalkan bang Arman pada mbak, kan saya juga,”katanya disertai tawa kecil.

“Heran ya, Kur. Ngakunya diselingkuhi isteri, tak tahunya dianya yang tidak benar. Tidak mudah memang mencari lelaki yang benar-benar bertanggung jawab, jujur dan beriman, Kur.”

Kurnia menatapku. Baru kusadari sorot matanya begitu lembut menghujaniku. Aku mengalihkan pandangan ke luar jendela. Sorot mata itu, bagai langit sore yang dinaungi awan putih di luar mal. Entah kenapa, aku jadi sibuk mengatur denyut jantungku yang tiba-tiba berdenyut lebih kencang.

“Mbak, mbak harus yakin dan percaya. Masih banyak lelaki yang baik di muka

bumi ini, yang akan menyayangi dan membahagiakan mbak. Lupakanlah masa lalu, mbak. Buka mata dan hati mbak lebar-lebar,”ucapnya serius.

Itulah pertemuan kami yang pertama di café mal, suatu sore. Ketika senja semakin merambat, kami harus meninggalkan café. Kali ini, entah kenapa aku merasa ada harapan menggelitiki hatiku. Semoga akan ada pertemuan lagi di tempat ini, di waktu yang lain. Bersama Kurnia.

***

Artikel - Kritik dan Masalahnya

KRITIK DAN MASALAHNYA

Oleh : Rina Mahfuzah Nst

Kapan terakhir kali anda dikritik oleh orang lain di luar diri anda? Dan bagaimana sambutan anda terhadapnya? Marahkah? Senangkah? Atau malah mengkritik balik orang yang telah mengkritik anda? Mari kali ini kita bicara tentang kritik.

Pernah dalam suatu kesempatan, Nadia merasa tak punya keistimewaan apapun ketika Ekky melontarkan kritik terhadap penampilannya.

“Kau manis, Nadia. Alismu lebat, hidungmu mancung, senyummu memikat. Apalagi kalau kau memakai baju dengan warna yang agak slow. Dan wajahmu kau poles dengan make-up yang berciri remaja. Tidak terlalu tebal. Wah, pasti makin cakeplah kau kelihatannya,”

“Jadi begini penilaianmu terhadap penampilan yang telah kuatur selama dua jam? Konyol! Kalau aku tahu kau secerewet ini, tak sudi aku memenuhi ajakanmu ngedate. Permisi!”sambut Nadia marah. Alhasil, acara kencan yang telah mereka rencanakan gagal total malam itu.

Contoh di atas menggambarkan betapa kritik menimbulkan salah pengertian. Karena bila seseorang mendengar orang lain menyampaikan kritik padanya, maka ia cenderung akan melihat hal-hal yang kurang baik pada dirinya yang akan menurunkan “mutu” dirinya beserta segala sesuatu yang telah dibangunnya dengan susah payah.

Hal ini memang tidak bisa disalahkan mengingat banyak orang lebih senang mendengarkan pujian yang mendatangkan “kebanggaan” pada diri sendiri daripada mendengar kritik yang akan membuat ia sadar akan kekurangan dirinya yang selama ini dirasa telah hebat dari orang lain. Padahal disadari atau tidak, kritik dapat menolong seseorang untuk menutup lubang-lubang kekurangan yang ada pada dirinya sehingga secara langsung atau tidak ia akan berusaha mencari jalan keluarnya.

Seperti Aida misalnya. Gadis muda ini punya ambisi besar untuk menjadi seorang pengarang yang terkenal. Sehingga hal itu menjadi satu obsesi baginya. Dalam satu kesempatan, ada yang mengomentari bahwa puisi karya Aida masih berkesan dangkal, tidak mengandung unsur puitik dan cenderung terjebak pada kata-kata manis.

Aida tidak menjerit histeris atau memaki orang yang telah mengkritiknya itu. Kemudian diambilnya sekumpulan puisi karyanya lalu dibandingkan dengan puisi orang lain yang sudah terkenal.

Dari pengamatan itu sadarlah Aida kalau selama ini sering terburu-buru dan terkadang kurang mengacuhkan soal pemilihan kata. Apalagi dengan pengalaman yang minim tentulah puisinya menghasilkan kesan yang dangkal. Sejurus kemudian ia berfikir bahwa utuk mencapai suatu keberhasilan seseorang harus tahan dengan kritik dari orang lain yag tentunya cukup matang pengetahuannya, yang telah dewasa dalam berfikir dan dapat mengendalikan emosinya serta cukup peka terhadap apa yang dirasakan oleh orang lain, seperti dirinya.

Orang seperti Aida adalah contoh golongan yang tahan dan dengan lapang dada menerima kritikan, tidak lekas putus asa, bahkan menjadikan kritik yang disodorkan padanya sebagai modal untuk memperbaiki serta menyempurnakan karya-karyanya di masa yang akan datang. Karena pada hakekatnya, kritik itu umpama orang yang melemparkan batu bata kepada kita yang setelah banyak lantas kita kumpulkan sehingga dapat mendirikan bangunan diri yang kokoh. Seperti pendapat Theodor Leschetizhy : “Kritik membuat kita berfikir, tetapi pujian hanya menggembirakan,”

Akhirnya kritik sangat perlu dan berguna sekali untuk memberantas sikap “akulah yang paling benar”. Supaya wabah diktator yang dibawa oleh Hitler, Napoleon dan mereka yang menganggap dirinya selalu benar tidak menjangkiti hati kita. Semoga.

Artikel

13 LANGKAH MENUJU KEPRIBADIAN YANG DINAMIS

Oleh Rina Mahfuzah Nst

Kemajuan ilmu dan teknologi di dunia dewasa ini semakin hebat dan hampir menjamah seluruh segi kehidupan manusia. Sejalan dengan pertambahan penduduk yang semakin meningkat, kehidupan manusia semakin sulit, semakin kompetitif, akibat semakin kompleksnya problem kehidupan yang harus dihadapi manusia. Hanya mereka yang punya kepribadian yang kuat dan cara berfikir yang dinamislah yang dapat survive dalam kehidupan ini.

Untuk menggali kepribadian yang dinamis tidak memerlukan alat yang mahal atau kursus-kursus tertentu. Yang perlu Anda lakukan adalah memanfaatkan waktu, bakat dan kemampuan Anda sendiri Menggali sesuatu yang selama ini sudah ada dalam diri Anda: kepribadian Anda yang sesungguhnya!

Untuk mengembangkan kepribadian yang dinamis, tidak perlu menunggu sampai “saat yang tepat”. Lakukan sekarang juga. Ingat, “Hari ini adalah hari pertama dari seluruh sisa hidup Anda!”

1. Bersikap antusias! Tunjukkan sikap positif, ceria dan optimis tentang segala sesuatu hari ini: di rumah, di tempat bekerja, di kelas, di mana saja! Laluilah hari ini tanpa pikiran negatif, pertengkaran atau kemarahan. Pandanglah segala yang Anda lakukan hari ini sebagai petualangan, tantangan atau peristiwa yang menarik. Nikmati hari ini dan penuhilah dengan prestasi. Perhatikan perkataan seorang pakar berikut ini :

“Jika kita ingin menikmati hidup, sekaranglah saatnya. Bukan besok, bukan tahun depan, ataupun dalam kehidupan kelak setelah kita meninggal. Persiapan terbaik untuk kehidupan yang lebih baik tahun depan ialah kehidupan yang sepenuhnya, lengkap, harmonis dan bahagia tahun ini. Keyakinan kita tentang masa depan yang indah tidaklah berarti apa-apa bila kita tidak memulainya hari ini. Hari ini hendaknya selalu menjadi hari yang paling indah!”

2. Pelajari sesuatu yang baru! Hari ini, isilah pikiran Anda dengan fakta yang baru, keterampilan yang baru, minat baru, kesadaran baru tentang orang lain, sudut pandangan yang baru. Kunjungi perpustakaan, Toko Buku, seorang teman dan sebagainya. Ambillah tindakan yang positif untuk mempelajari sesuatu yang baru. Di hari-hari mendatang Anda akan terbiasa bertindak kreatif seperti ini.

3. Bersikap penuh percaya diri! Hari ini saat untuk itu! Putuskan bahwa Anda akan melakukan hal itu, kemudian lakukanlah! Percayalah kepada diri Anda. Jangan tenggelamkan diri Anda pada kekuatiran dan jangan membuat bosan orang-orang di sekitar Anda dengan problem Anda, keraguan dan ketidakpastian Anda. Bila timbul problem, Andalah sebagai pemecah problem yang kreatif. Kemukakan gagasan Anda secara cemerlang. Kerjakan apa yang sedang Anda kerjakan sekarang, seakan akan itu adalah pekerjaan yang paling penting di dunia!

4. Bersikap ingin tahu. Ajukan pertanyaan-pertanyaan hari ini. Jangan menerima segala sesuatu seperti adanya. Tanyakan “mengapa?” tentang sesuatu, kemudian tanggapilah. Tanyakan kepada orang-orang tentang diri mereka, gagasan mereka dan usaha mereka. Mereka senang berbicara tentang diri mereka dan Anda akan mengetahui sesuatu yang baru. Berbicaralah dengan orang yang belum Anda kenal. Ketahuilah sesuatu tentang profesi, pekerjaan atau hobby orang lain. Temukan sesuatu yang baru tentang seorang teman, pacar atau lebih baik lagi, tentang diri Anda. Berhentilah sejenak dari aktifitas Anda dan luangkan waktu mengenal diri Anda. Mungkin Anda akan menemukan sesuatu yang mengherankan. Karena Anda akan bertemu dengan seseorang yang menyenangkan dan penuh dorongan; diri Anda sendiri!

5. Ubahlah kebiasaan rutin Anda. Telaahlah hal-hal yang Anda lakukan setiap

hari dengan cara tertentu dan dalam waktu tertentu. Mengapa cara itu yang Anda gunakan , atau mengapa pada waktu tertentu itu, atau mengapa route tertentu, atau mengapa dengan orang tertentu itu? Apa yang akan terjadi seandainya: Anda bangun sepuluh menit lebih awal? Anda tersenyum ketika makan pagi? Anda membaca majalah sport bukan majalah wanita? Anda ke toko yang belum pernah Anda masuki? Bila Anda mengubah kebiasaan rutin, gantilah dengan suatu tindakan atau kegiatan yang kreatif.

6. Manfaatkan waktu luang Anda. Gunakan beberapa menit pada hari ini untuk meneliti jadwal Anda dan perhatikan apa yang ada. Waktu luang Anda mungkin biasa Anda gunakan untuk tidur, makan , mencari hiburan atau bahkan bekerja. Ambillah 30, 20 bahkan 10 menit untuk melakukan sesuatu yang kreatif. Perhatikan betapa mudahnya menemukan 30, 20, 10 menit yang berikutnya besok pagi.

7. Pakailah sesuatu yang berbeda. Para psikolog mengatakan bahwa pakaian kita tidak hanya mencerminkan perasaan dan kepribadian kita, tetapi juga mempengaruhinya. Jika Anda mengenakan pakaian yang kumal, tidak berselera dan kolot, Anda akan menemukan diri Anda menjadi demkian juga. Bila Anda memilih gaya dan warna yang semarak, Anda akan menjadi lebih hidup dalam pikiran dan tindakan. Untuk itu gunakanlah kreatifitas dalam berpakaian!

8. Penuh perhatian. Tunjukkan perhatian yang tulus kepada orang lain, baik pada gagasan, problem atau kebahagiaan mereka. Tunjukkan simpati dan pengertian kepada setiap orang yang Anda jumpai hari ini. Jangan biarkan diri Anda memusatkan perhatian kepada diri Anda saja. Ingat, seseorang yang hanya memperhatikan dirinya sendiri tidak akan dapat maju. Tolonglah orang lain memecahkan problemnya, suatu hari Anda mungkin mengalami hal serupa.

9. Tunjukkan perasaan. Katakan kepada seseorang apa yang Anda pikirkan tentang dia hari ini dengan cara yang kreatif. Perasaan Anda memainkan peran penting dalam pikiran Anda, jadi jangan tergesa-gesa menyatakannya. Ingat, perasaan adalah warna kehidupan, kita akan menjadi orang yang menjemukan tanpa hal itu.

10. Lakukan sesuatu yang berbeda. Keluarlah dari kebiasaan yang telah

mendarah daging dan jangan kembali! Bangunkan sel-sel otak Anda dengan melakukan sesuatu yang bukan bagian dari pola kehidupan Anda yang biasa. Bahkan meskipun itu cuma membuka pintu dengan tangan kiri Anda. Pergi ke tempat kerja melewati jalan lain, membaca buku yang bukan bidang Anda atau mencari hiburan jenis lain. Tindakan-tindakan kecil yang kreatif ini dapat menuntun Anda kepada suatu yang lebih besar dan lebih produktif.

11. Pilihlah seorang teman baru. Anda belum mengenal semua orang menarik yang ingin Anda kenal, bukan? Karena itu jadikan hari ini untuk memulai suatu persahabatan baru dengan seorang yang menarik dan kreatif. Tentu saja caranya harus menjadi orang yang menarik pula. Karena itu manfaatkan bakat dan kemampuan Anda untuk membuat diri Anda menarik bagi teman-teman Anda. Orang yang membosankan tidak menghasilkan apa-apa selain lebih banyak orang yang membosankan. Percakapan basa-basi menghasilkan lebih banyak percakapan serupa, tetapi orang yang dinamis mendorong orang lain menjadi dinamis!

12. Mendengarkan! Bila Anda tidak mendengar dan memahami apa yang dikatakan lawan bicara Anda, Anda belumlah benar-benar berkomunikasi dengannya. Mendengarkan terkadang merupakan pekerjaan yang sulit, tetapi manfaatnya besar. Dengarkan apa yang dikatakan lawan bicara Anda. Ia mungkin mempunyai gagasan yang baik bagi Anda. Hari ini, dengarkan semua orang yang berbicara dengan Anda! Dengarkan seakan-akan keterangan yang akan Anda dengar adalah yang paling penting sepanjang hidup Anda. Siapa tahu, memang begitu!

13. Berikan sumbangan. Jika Anda mempunyai uang, sumbangkan kepada badan amal atau dompet amal. Jika Anda mempunyai waktu, sumbangkan kepada agama, masyarakat atau organisasi lain. Jika Anda hanya mempunyai sedikit uang dan waktu, maka sumbangkanlah gagasan Anda. Anda akan menemukan bahwa hal itu sering dianggap jauh lebih berharga daripada sumbangan materi.

Mengapa penting untuk memiliki kepribadian yang dinamis? Karena bila Anda telah mencapai hal ini, segala yang Anda lakukan akan Anda lakukan dengan kreatif. Anda akan ingin menanggulangi problem secara kreatif, melaksanakan pekerjaan Anda secara kreatif, berfikir dan bertindak secara kreatif. Karena semua itu merupakan bagian dari sikap dinamis Anda. Anda akan tidak merasa puas dengan kebiasaan rutin yang Anda lakukan. Anda siap memupuk dorongan untuk menjelajah, memperluas dan mencipta. Anda siap untuk mengeluarkan diri Anda dari tempat persembunyiannya dan menjadikannya seorang yang produktif dan penting seperti yang Anda inginkan! Dan perhatikan bagaimana daya kreatifitas Anda bertambah sewaktu kepribadian Anda yang dinamis berkembang. Selamat menerapkannya dalam kehidupan Anda. (berbagai sumber)

Sebuah Keputusan

Berawal dari keinginan meningkatkan pendidikan buat Andy, aku menawarkan untuknya mengikuti pertukaran pelajar selama satu tahun ke Amerika. Andy menyambut baik usulanku. Apalagi suami dan anak-anakku tercinta mendukung. Setelah mempersiapkan segala urusan yang menyangkut studynya, berangkatlah Andy yang notabene sebagai satu-satunya anak lelakiku. Aku melepasnya dengan tegar di Bandara Sukarno Hatta.

Sebenarnya tidak mudah buatku melepasnya pergi dalam waktu setahun ke negeri orang, tapi dengan tekad yang kuat akhirnya aku bisa menghadapi hari-hari tanpanya. Yang penting ia tidak boleh lupa memberi kabar tentang dirinya selama berada di sana. Komunikasi harus selalu terjalin, baik melalui telepon ataupun email.

Andy disambut baik oleh sebuah keluarga keturunan Inggris. Dia diperlakukan dengan baik oleh mereka. Ia dibantu dalam urusan sekolah dan perihal makanan yang sudah dapat dipastikan berbeda dengan di rumahnya sendiri.

Ibu pemilik rumah sudah berusia enam puluh sembilan tahun. Andy memanggilnya nenek Rebecca. Dia menikah lagi dengan laki-laki berusia tiga puluh dua tahun. Di rumah itu juga tinggal anak nenek Rebecca dari suaminya terdahulu. Anaknya itu sudah bercerai dengan suaminya. Dia mempunyai anak perempuan bernama Catherine.Usianya tak jauh beda dengan Andy—enam belas tahun.

“Mama, kalau di sini orang tuanya jadi bertukar-tukar ya, Ma. Karena seringnya terjadi perceraian. Andy terkadang jadi bingung, Ma. Nenek Rebecca yang sudah tua aja bisa menikah lagi dengan laki-laki jauh lebih muda dari usianya,”

Aku tertawa kecil menanggapi email Andy suatu kali. Ternyata Andy sudah bisa menilai dengan pikirannya sendiri tentang corak kehidupan kebanyakan orang yang tinggal di sana. Tentu berbeda dengan corak kehidupan di Indonesia. Apalagi di keluarga kami belum ada yang mengalami tragedi perceraian.

“Latar belakang kebudayaan kita memang berbeda dengan mereka, Nak. Mungkin itulah yang membedakan kehidupan kita dengan mereka. Kamu tidak usah memikirkan, kenapa bisa terjadi hal seperti itu. Karena hal seperti itu masih jauh dari jangkauan berfikir kamu. Jangan lupa kamu berangkat ke sana kan untuk belajar. Bukan untuk mensurvey kehidupan orang Barat,”jawabku pada kesempatan yang lain.

Tidak sia-sia rasanya aku menjual sebuah rumah milik kami yang semula dikontrakkan untuk biaya memberangkatkan Andy ke Amerika. Namun enam bulan setelah dia menetap di negeri dengan empat musim itu, dia mengatakan sesuatu yang mengejutkanku. Andy berniat meneruskan studynya sampai universitas! Aku seperti melihat pandangan yang kurang enak dari suamiku setelah itu. Seolah-olah menyalahkanku!

Ide yang semula kurasa baik untuk pendidikan anakku, kini seperti bumerang yang menghantam diriku sendiri. Hatiku cemas kalau keinginan anakku benar-benar tidak bisa dikompromikan lagi. Bagaimana kami harus membiayai perkuliahannya yang tidak sedikit jumlahnya? Sementara bisnis suamiku sedang kurang baik di tahun ini! Aku tak tahu harus bagaimana. Tidurku pun jadi terganggu karena memikirkan hal itu.

“Aku tidak menyalahkan kamu karena ide mengikuti pertukaran pelajar ini dari kamu asalnya. Aku tahu tujuan kamu supaya anakmu berwawasan luas, berfikiran lebih maju dan berilmu tinggi. Tapi beginilah kalau anak sudah dikasi kesempatan sekali, maunya jadi keterusan. Bagaimana kita harus membiayai dia kalau dia mau terus kuliah di sana? Kamu tahu sendiri kan bisnisku belakangan ini?”kata suamiku.

Aku mengangguk mantap. Dalam hati aku berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan keinginan anakku. Bukan aku ingin menurunkan semangatnya untuk sekolah. Tapi tidak di Amerika. Di Indonesia sendiri masih banyak terdapat sekolah yang bermutu pendidikan tinggi dan menghasilkan anak-anak pendidikan yang sukses dalam karirnya di kemudian hari.

“Andy, apa yang kamu katakan itu bukan pilihan yang terbaik buat kita semua. Mama ingin Andy memahami, semua itu memerlukan biaya yang sangat tinggi. Melampaui budget yang diberikan Papa untuk kamu. Akhir-akhir ini bisnis di sini kurang baik, Nak. Kamu beruntung bisa bersekolah di Amerika. Padahal masih banyak anak-anak seusia kamu yang kurang beruntung. Jangankan untuk bisa sekolah, makan sehari-hari saja tidak mencukupi,”kataku memberikan nasihat pada anakku.

Sungguh di luar dugaanku, Andy malah mengutarakan niatnya untuk sekolah sambil bekerja. Aku salut mendengarnya, tapi tetap saja aku dan suami tidak setuju. Aku tak ingin membiarkannya harus bekerja di usia di mana dia harus belajar keras untuk mewujudkan cita-citanya. Aku terus memberikan dorongan, nasehat dan apa saja yang bisa kusampaikan untuk meredakan niat Andy. Berbagai artikel dan tips dari koran dan majalah kukirimkan untuknya. Bahkan aku memintanya menterjemahkan ke bahasa Inggris dan membagikannya kepada teman-temannya. Syukurlah usahaku tidak sia-sia. Andy akhirnya mau mendengarkan omonganku dan papanya. Aku dan suamiku pun bisa bernafas lega.

Waktu berjalan demikian cepat. Aku tak menyangka waktu satu tahun sebentar saja telah berlalu. Sekolah Andy memberikan sertifikat untuk kelulusannya. Kami meminta Andy menscan dan mengemailnya. Setelah dicek suamiku, ternyata nama lengkap Andy kurang satu huruf! Untung saja hal ini segera diketahui sebelum Andy kembali ke tanah air. Ternyata di negara maju seperti Amerika sekali pun, kesalahan dari sumber daya manusia atau human error masih saja ada. Hilang satu huruf saja dari nama lengkap seseorang, hal itu tidak bisa dibiarkan! Untuk apa Andy jauh-jauh kusekolahkan bila nama dalam sertifikatnya tidak benar? Masalah ini membuat hatiku jadi cemas tak karuan.

Di saat Andy harus mempersiapkan kepulangannya, dia harus bolak-balik ke sekolahnya untuk mengurus penggantian kembali sertifikatnya. Aku juga menghubungi orang tua asuhnya untuk membantunya. Jadwal kepulangan Andy tinggal satu minggu lagi. Namun lagi-lagi ada masalah. Kali ini cuaca buruk sedang melanda kota kecil tempat Andy tinggal. Pesawat boleh terbang dua minggu kemudian. Kami semua menunggu kepulangan Andy sambil berdoa untuk keselamatannya.

Aku berterima kasih pada orang tua asuh Andy yang telah menampungnya selama ini. Aku juga bersyukur pada Tuhan anakku bisa mengikuti program pertukaran pelajar dan telah dinyatakan lulus dengan hasil yang memuaskan. Aku tak dapat membendung tangisku saat berjumpa anakku setelah satu tahun berpisah. Hatiku sangat bahagia ketika dia telah kembali dengan selamat ke Indonesia, berkumpul kembali di tengah-tengah keluarganya tercinta.

***

Rabu, 01 Juni 2011

Di Sebuah Becak Mesin

“Sampai di Medan nanti, kita naik becak mesin ya, Sel,” ucap perempuan paruh baya di sebelahku. Aku seolah tak percaya mendengar inisiatif yang dilontarkannya.

Sejak kepergian suaminya delapan tahun lalu, Kak Masda tidak ingin pergi ke mana-mana. Kalau kemarin suamiku tidak ikut membujuknya, dia tidak akan sampai ke Balige. Sampai di Balige, Kak Rani yang notabene kakak ipar kami kemudian membujuknya pula untuk menikmati indahnya danau toba.

Aku berbeda. Ada keriangan di dalam hatiku di setiap perjalanan. Sejak kuliah aku sudah meninggalkan Toraja dan tinggal di Jakarta. Setelah menikah aku pun harus mendampingi suamiku berpindah tugas dari satu kota ke kota lain.

Kijang Innova yang membawa kami—para penumpang dari Kota Balige menuju Kota Medan baru beberapa menit lalu meluncur. Di luar, gerimis mewarnai wajah siang di kota yang berada di tepian danau toba ini.

“Kita naik taxi saja, Kak. Kenapa harus naik becak mesin? Kakak tidak takut naik becak mesin?” jawabku sambil menatapnya. Ide naik becak mesin yang diusulkan Kak Masda tidak menarik bagiku, karena Medan masih asing bagiku. Ini kunjunganku yang pertama kalinya di kota ini

“Kenapa harus takut, Sel? Dulu, waktu masih tinggal di Medan, aku sering naik becak mesin. Menurutku becak mesin adalah kenderaan yang menyenangkan dan aman dinaiki. Dulu aku sering naik becak bersama anak-anak ke rumah ibu, berbelanja ke pajak atau urusan lainnya. Anakku pun diantar jemput naik becak mesin ke sekolahnya.”

“Sebelum ada becak mesin, di Medan banyak beroperasi becak dayung. Modelnya sama seperti becak mesin, bedanya becak dayung dijalankan dengan sepeda. Tapi seiring perjalanan waktu becak dayung jarang ditemui lagi di Medan, sebab keberadaannya dapat menyebabkan kemacetan lalu lintas dan tidak efektif jika digunakan untuk jarak tempuh yang lumayan jauh,” lanjut Kak Masda.

Aku berharap perjalanan ini tidak cepat sampai di Medan, biar rencana Kak Masda untuk naik becak batal dan kami akan dijemput oleh supir Kak Intan, kakak kandung Kak Masda yang tinggal di Medan. Harapanku sia-sia, perjalanan yang memakan waktu sekitar lima jam lebih berjalan mulus. Tak ada kendala.

Mobil Kijang Innova berhenti di jalan Sisingamangaraja. Kami meluruskan punggung, sebelum membawa turun barang-barang kami. Kota Medan di waktu malam tampak indah dengan lampu-lampu yang menerangi jalan. Sejumlah toko, warung makan, hotel, travel dan sebagainya masih terus menjalankan rutinitasnya, membuat suasana malam tambah indah dan semarak. Sebagian penumpang ada yang langsung naik ke mobil yang menjemput. Ada pula yang memanggil becak mesin, sementara Kak Masda mengajakku singgah ke warung sate padang.

Potongan daging sate yang empuk dan lezat segera berpindah ke mulutku, disusul potongan lontong dan kuah yang kental. Kak Masda melakukan hal yang sama. Setelah itu kami minum es tebak yang terdiri dari pepaya, kolang-kaling, roti, tape dan sirup merah. Kami sama-sama mengagumi segarnya es tebak dan kelezatan sate yang rasanya memiliki citra rasa yang tinggi dan jarang sekali kami temui di Jakarta.

Jam di pergelangan tangan kiriku menunjukkan pukul setengah sembilan malam, saat kami keluar dari warung sate padang. Hatiku mendadak resah.

“Kita naik taxi saja ya, Kak. Aku trauma naik becak. Aku pernah jatuh sewaktu naik becak kayuh di Jakarta,” kataku memohon. Saat itu becak kayuh yang kunaiki terbalik karena ditabrak sebuah metro mini. Lutut dan betisku berdarah, pinggang dan kepalaku terasa sakit sekali. Sejak itu aku tak pernah ingin naik becak lagi.

“Becak kayuh beda dengan becak mesin, Selly. Kenapa harus takut kau? Percayalah, kau akan ketagihan naik becak mesin. Kau akan merindukannya setelah kau di Jakarta nanti,” sebaliknya Kak Masda berkata penuh keyakinan.

“Kalau begitu kakak pilih tukang becaknya yang bersih, rapi, wajahnya tidak seram dan bodi becaknya masih terlihat baru,” kataku lagi, mengajukan syarat.

Kak Masda awalnya protes, syaratku dianggapnya berlebihan. Tapi demi aku, dia pun mulai memilih tukang becak sesuai syaratku itu. Beberapa tukang becak hanya memandang kami kecewa, karena kami hanya melewati mereka. Kami bahkan menyeberang ke arah tempat mangkal becak di depan hotel bintang tiga. Kami menemukan yang kami cari. Seorang lelaki memakai kaos biru dan topi hitam. Kak Masda mulai menyebutkan tujuan kami. Tapi ternyata menawar becak tidak segampang yang dibayangkan Kak Masda. Ongkos yang ditetapkan lelaki itu jauh lebih tinggi dari ongkos sewajarnya. Ketika Kak Masda menawar, lelaki itu malah turun dari becaknya.

“Dua puluh lima ribu ke Jalan Setiabudi. Siapa yang mau bawa?” teriaknya.

Teriakan lelaki itu mengundang tukang becak lain mengerumuni kami. Ada yang minta tambah, ada yang mengatakan tempat yang kami tuju jauh dan ada pula seolah tertawa mengejek. Kak Masda langsung menarik tanganku, menjauh dari tempat itu.

“Tukang becak sekarang banyak mentikonya, Sel. Kalau dulu tidak begitu. Lagipula kalau tidak cocok dengan ongkosnya, kenapa mesti teriak-teriak mengumumkan ke tukang becak yang lain? Macam kita barang dagangan aja,” sungutnya.

Lalu kami melangkah lagi. Kebetulan ada seorang tukang becak yang lewat di depan kami. Dari pantauan kami, dia sepertinya cocok dengan kriteria yang telah kami sepakati. Kak Masda langsung memanggil orang itu. Seorang lelaki paruh baya, berkulit sawo matang dan memakai jaket. Ongkos yang diminta lelaki itu ternyata lebih murah.

Design becak di Medan memang jauh berbeda dengan design becak Jakarta. Pengemudi dan penumpangnya berada di depan, diperantarai palang besi yang menyambung dengan jok tempat duduk dan tenda becak. Ada sebuah pijakan kecil di bawah tempat duduk untuk naik ke atas becak. Tempat duduknya tidak serasa mau jatuh seperti tempat duduk becak Jakarta.

“Ayo, naik. Kenapa bengong saja, Selly?” ujar Kak Masda. Mau tak mau naik juga aku ke atas becak.

Dan ketika mesin becak yang menggunakan sepeda motor honda mulai meraung-raung, aku memegang erat ujung kayu yang menyatu dengan tempat duduk kami sambil memejamkan mataku. Melihat itu Kak Masda menertawaiku dan mengatakan kami akan baik-baik saja. Beberapa saat setelah becak meluncur di jalan, baru aku melepaskan peganganku, karena sepertinya aku mulai merasa aman.

Inilah pengalamanku yang pertama naik becak mesin. Dengan tenda yang terbuka, rambutku melambai-lambai seperti sebuah bendera di atas tiang yang ditiup angin kencang. Jiwa lepas menikmati pengalaman menaiki becak yang sungguh sangat langka kualami dalam hidupku. Aku lebih terpana melihat Kak Masda membuka sweaternya dan mengikat di pinggangnya. Persis gaya anak remaja. Kami benar-benar happy. Tak ada beban sedikitpun. Mata kami leluasa menikmati panorama langit yang diterangi cahaya bulan dan bintang.

Kami melewati café-café tenda di pinggir jalan yang menjual makanan tradisional, seperti lontong malam, serabi, martabak, nasi gurih dan sebagainya. Deru becak mesin bersaing dengan laju kenderaan lain melewati gedung-gedung bertingkat, rumah sakit, hotel dan perumahan penduduk.

“Kak, rasanya aku ingin berhenti dan merasai makanan itu satu per satu. Sayang ya sudah malam, kalau tidak aku pasti mau singgah, Kak,” kataku.

“Jangan khawatir. Kita kan bakalan ke Medan lagi dan naik becak mesin lagi.”

Tiba-tiba becak yang kami tumpangi berguncang, karena roda becak melewati jalan yang berlubang. Aku dan Kak Masda merasa perut kami ikut bergoncang, sehingga kami serentak mengucapkan kata aduh.

“Untung kita tidak sedang hamil besar. Kalau tidak, bisa melahirkan kita di atas becak ini, Kak,” candaku, disambut Kak Masda dengan derai tawa.

Tawa kami semakin keras, ketika melihat seorang lelaki tua hampir menabrak mobil di depannya, gara-gara melirik kami dengan genit.

“Dasar tua-tua keladi. Makanya kalau jalan lihat ke depan,” seru Kak Masda.

Tak lama kemudian, si tukang becak membunyikan klakson beberapa kali. Beberapa meter dari arah yang berlawanan sekilas kulihat pengendara sepeda motor sedang memandang ke arah becak kami. Sesaat kemudian tahu-tahu sebuah sepeda motor mendekati becak kami dan salah satu pengendaranya secara paksa menarik kalung berlian yang dipakai Kak Masda! Kejadian itu begitu tiba-tiba dan membuat kami sangat terkejut. Di tengah rasa riang gembira kami, mendadak kami mengalami peristiwa yang sangat tidak kami harapkan. Untuk sesaat kami seperti dua orang yang linglung, tidak sadar dengan kejadian yang menimpa kami. Hal itu berlanjut sampai di rumah Kak Intan.

“Kau akan ketagihan naik becak mesin, Sel. Kau akan merindukannya setelah kau di Jakarta nanti,” kata-kata Kak Masda terngiang-ngiang di telingaku. ***