Rabu, 29 April 2026

Artikel - Kritik dan Masalahnya

KRITIK DAN MASALAHNYA

Oleh : Rina Mahfuzah Nst

Kapan terakhir kali anda dikritik oleh orang lain di luar diri anda? Dan bagaimana sambutan anda terhadapnya? Marahkah? Senangkah? Atau malah mengkritik balik orang yang telah mengkritik anda? Mari kali ini kita bicara tentang kritik.

Pernah dalam suatu kesempatan, Nadia merasa tak punya keistimewaan apapun ketika Ekky melontarkan kritik terhadap penampilannya.

“Kau manis, Nadia. Alismu lebat, hidungmu mancung, senyummu memikat. Apalagi kalau kau memakai baju dengan warna yang agak slow. Dan wajahmu kau poles dengan make-up yang berciri remaja. Tidak terlalu tebal. Wah, pasti makin cakeplah kau kelihatannya,”

“Jadi begini penilaianmu terhadap penampilan yang telah kuatur selama dua jam? Konyol! Kalau aku tahu kau secerewet ini, tak sudi aku memenuhi ajakanmu ngedate. Permisi!”sambut Nadia marah. Alhasil, acara kencan yang telah mereka rencanakan gagal total malam itu.

Contoh di atas menggambarkan betapa kritik menimbulkan salah pengertian. Karena bila seseorang mendengar orang lain menyampaikan kritik padanya, maka ia cenderung akan melihat hal-hal yang kurang baik pada dirinya yang akan menurunkan “mutu” dirinya beserta segala sesuatu yang telah dibangunnya dengan susah payah.

Hal ini memang tidak bisa disalahkan mengingat banyak orang lebih senang mendengarkan pujian yang mendatangkan “kebanggaan” pada diri sendiri daripada mendengar kritik yang akan membuat ia sadar akan kekurangan dirinya yang selama ini dirasa telah hebat dari orang lain. Padahal disadari atau tidak, kritik dapat menolong seseorang untuk menutup lubang-lubang kekurangan yang ada pada dirinya sehingga secara langsung atau tidak ia akan berusaha mencari jalan keluarnya.

Seperti Aida misalnya. Gadis muda ini punya ambisi besar untuk menjadi seorang pengarang yang terkenal. Sehingga hal itu menjadi satu obsesi baginya. Dalam satu kesempatan, ada yang mengomentari bahwa puisi karya Aida masih berkesan dangkal, tidak mengandung unsur puitik dan cenderung terjebak pada kata-kata manis.

Aida tidak menjerit histeris atau memaki orang yang telah mengkritiknya itu. Kemudian diambilnya sekumpulan puisi karyanya lalu dibandingkan dengan puisi orang lain yang sudah terkenal.

Dari pengamatan itu sadarlah Aida kalau selama ini sering terburu-buru dan terkadang kurang mengacuhkan soal pemilihan kata. Apalagi dengan pengalaman yang minim tentulah puisinya menghasilkan kesan yang dangkal. Sejurus kemudian ia berfikir bahwa utuk mencapai suatu keberhasilan seseorang harus tahan dengan kritik dari orang lain yag tentunya cukup matang pengetahuannya, yang telah dewasa dalam berfikir dan dapat mengendalikan emosinya serta cukup peka terhadap apa yang dirasakan oleh orang lain, seperti dirinya.

Orang seperti Aida adalah contoh golongan yang tahan dan dengan lapang dada menerima kritikan, tidak lekas putus asa, bahkan menjadikan kritik yang disodorkan padanya sebagai modal untuk memperbaiki serta menyempurnakan karya-karyanya di masa yang akan datang. Karena pada hakekatnya, kritik itu umpama orang yang melemparkan batu bata kepada kita yang setelah banyak lantas kita kumpulkan sehingga dapat mendirikan bangunan diri yang kokoh. Seperti pendapat Theodor Leschetizhy : “Kritik membuat kita berfikir, tetapi pujian hanya menggembirakan,”

Akhirnya kritik sangat perlu dan berguna sekali untuk memberantas sikap “akulah yang paling benar”. Supaya wabah diktator yang dibawa oleh Hitler, Napoleon dan mereka yang menganggap dirinya selalu benar tidak menjangkiti hati kita. Semoga.

Tidak ada komentar: