Berawal dari keinginan meningkatkan pendidikan buat Andy, aku menawarkan untuknya mengikuti pertukaran pelajar selama satu tahun ke Amerika. Andy menyambut baik usulanku. Apalagi suami dan anak-anakku tercinta mendukung. Setelah mempersiapkan segala urusan yang menyangkut studynya, berangkatlah Andy yang notabene sebagai satu-satunya anak lelakiku. Aku melepasnya dengan tegar di Bandara Sukarno Hatta.
Sebenarnya tidak mudah buatku melepasnya pergi dalam waktu setahun ke negeri orang, tapi dengan tekad yang kuat akhirnya aku bisa menghadapi hari-hari tanpanya. Yang penting ia tidak boleh lupa memberi kabar tentang dirinya selama berada di
Andy disambut baik oleh sebuah keluarga keturunan Inggris. Dia diperlakukan dengan baik oleh mereka. Ia dibantu dalam urusan sekolah dan perihal makanan yang sudah dapat dipastikan berbeda dengan di rumahnya sendiri.
Ibu pemilik rumah sudah berusia enam puluh sembilan tahun. Andy memanggilnya nenek Rebecca. Dia menikah lagi dengan laki-laki berusia tiga puluh dua tahun. Di rumah itu juga tinggal anak nenek Rebecca dari suaminya terdahulu. Anaknya itu sudah bercerai dengan suaminya. Dia mempunyai anak perempuan bernama Catherine.Usianya tak jauh beda dengan Andy—enam belas tahun.
“Mama, kalau di sini orang tuanya jadi bertukar-tukar ya, Ma. Karena seringnya terjadi perceraian. Andy terkadang jadi bingung, Ma. Nenek Rebecca yang sudah tua aja bisa menikah lagi dengan laki-laki jauh lebih muda dari usianya,”
Aku tertawa kecil menanggapi email Andy suatu kali. Ternyata Andy sudah bisa menilai dengan pikirannya sendiri tentang corak kehidupan kebanyakan orang yang tinggal di
“Latar belakang kebudayaan kita memang berbeda dengan mereka, Nak. Mungkin itulah yang membedakan kehidupan kita dengan mereka. Kamu tidak usah memikirkan, kenapa bisa terjadi hal seperti itu. Karena hal seperti itu masih jauh dari jangkauan berfikir kamu. Jangan lupa kamu berangkat ke
Tidak sia-sia rasanya aku menjual sebuah rumah milik kami yang semula dikontrakkan untuk biaya memberangkatkan Andy ke Amerika. Namun enam bulan setelah dia menetap di negeri dengan empat musim itu, dia mengatakan sesuatu yang mengejutkanku. Andy berniat meneruskan studynya sampai universitas! Aku seperti melihat pandangan yang kurang enak dari suamiku setelah itu. Seolah-olah menyalahkanku!
Ide yang semula kurasa baik untuk pendidikan anakku, kini seperti bumerang yang menghantam diriku sendiri. Hatiku cemas kalau keinginan anakku benar-benar tidak bisa dikompromikan lagi. Bagaimana kami harus membiayai perkuliahannya yang tidak sedikit jumlahnya? Sementara bisnis suamiku sedang kurang baik di tahun ini! Aku tak tahu harus bagaimana. Tidurku pun jadi terganggu karena memikirkan hal itu.
“Aku tidak menyalahkan kamu karena ide mengikuti pertukaran pelajar ini dari kamu asalnya. Aku tahu tujuan kamu supaya anakmu berwawasan luas, berfikiran lebih maju dan berilmu tinggi. Tapi beginilah kalau anak sudah dikasi kesempatan sekali, maunya jadi keterusan. Bagaimana kita harus membiayai dia kalau dia mau terus kuliah di
Aku mengangguk mantap. Dalam hati aku berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan keinginan anakku. Bukan aku ingin menurunkan semangatnya untuk sekolah. Tapi tidak di Amerika. Di Indonesia sendiri masih banyak terdapat sekolah yang bermutu pendidikan tinggi dan menghasilkan anak-anak pendidikan yang sukses dalam karirnya di kemudian hari.
“Andy, apa yang kamu katakan itu bukan pilihan yang terbaik buat kita semua. Mama ingin Andy memahami, semua itu memerlukan biaya yang sangat tinggi. Melampaui budget yang diberikan Papa untuk kamu. Akhir-akhir ini bisnis di sini kurang baik, Nak. Kamu beruntung bisa bersekolah di Amerika. Padahal masih banyak anak-anak seusia kamu yang kurang beruntung. Jangankan untuk bisa sekolah, makan sehari-hari saja tidak mencukupi,”kataku memberikan nasihat pada anakku.
Sungguh di luar dugaanku, Andy malah mengutarakan niatnya untuk sekolah sambil bekerja. Aku salut mendengarnya, tapi tetap saja aku dan suami tidak setuju. Aku tak ingin membiarkannya harus bekerja di usia di mana dia harus belajar keras untuk mewujudkan cita-citanya. Aku terus memberikan dorongan, nasehat dan apa saja yang bisa kusampaikan untuk meredakan niat Andy. Berbagai artikel dan tips dari koran dan majalah kukirimkan untuknya. Bahkan aku memintanya menterjemahkan ke bahasa Inggris dan membagikannya kepada teman-temannya. Syukurlah usahaku tidak sia-sia. Andy akhirnya mau mendengarkan omonganku dan papanya. Aku dan suamiku pun bisa bernafas lega.
Waktu berjalan demikian cepat. Aku tak menyangka waktu satu tahun sebentar saja telah berlalu. Sekolah Andy memberikan sertifikat untuk kelulusannya. Kami meminta Andy menscan dan mengemailnya. Setelah dicek suamiku, ternyata nama lengkap Andy kurang satu huruf! Untung saja hal ini segera diketahui sebelum Andy kembali ke tanah air. Ternyata di negara maju seperti Amerika sekali pun, kesalahan dari sumber daya manusia atau human error masih saja ada. Hilang satu huruf saja dari nama lengkap seseorang, hal itu tidak bisa dibiarkan! Untuk apa Andy jauh-jauh kusekolahkan bila nama dalam sertifikatnya tidak benar? Masalah ini membuat hatiku jadi cemas tak karuan.
Di saat Andy harus mempersiapkan kepulangannya, dia harus bolak-balik ke sekolahnya untuk mengurus penggantian kembali sertifikatnya. Aku juga menghubungi orang tua asuhnya untuk membantunya. Jadwal kepulangan Andy tinggal satu minggu lagi. Namun lagi-lagi ada masalah. Kali ini cuaca buruk sedang melanda
Aku berterima kasih pada orang tua asuh Andy yang telah menampungnya selama ini. Aku juga bersyukur pada Tuhan anakku bisa mengikuti program pertukaran pelajar dan telah dinyatakan lulus dengan hasil yang memuaskan. Aku tak dapat membendung tangisku saat berjumpa anakku setelah satu tahun berpisah. Hatiku sangat bahagia ketika dia telah kembali dengan selamat ke
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar