Minggu, 13 Desember 2009

Tusuk Sate

Beberapa hari lalu, Tante Muti dan Om Danu menggelar acara syukuran di rumah baru mereka. Tidak saja dari kerabat dan sanak keluarga, para tetangga dan rekan bisnis om Danu pun ikut memberikan selamat dan pujian.

Berada di rumah Tante Muti membuatku berfikir tentang sebuah rumah idaman. Di atas tanah seluas 200 meter, berdiri sebuah bangunan kokoh yang memiliki nilai artristik dan sentuhan modern. Mulai dari kaca jendela, lantai keramik, genteng rumah, semuanya model terbaru. Begitu juga dengan ukiran gypsum yang terpahat di dinding. Keanggunan ruang tamu dapat terlihat dari sofa empuk, gordyn jendela, lukisan bunga asoka dan lampu kristal.

Beberapa ruangan, termasuk kamar tidur ditata rapi, interiornya menarik. Di samping ruang keluarga, ada musholla kecil. Ruang makan berada di depan sebuah kolam air yang sisinya ditumbuhi beberapa jenis tumbuhan hijau. Di belakang ada dapur bersih dan dapur kotor. Pewarnaannya dibuat berbeda sehingga menimbulkan kesan yang apik.

Aku merasakan perbedaan yang amat mencolok, ketika berada di rumahku sendiri. Mungkin selain rumah kami kecil, merangkap pula sebagai tempat usaha yang telah berjalan dua puluh enam tahun. Selain tidak proporsional, terkadang lebih mirip gudang saja, karena ruang tamu pun ikut dijadikan tempat penyimpanan barang oleh Ibu..

Tidak ada yang khusus sebagai ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan dan ruang musholla. Yang ada setelah bangunan Toko--ruang tamu, seterusnya meja makan, di belakang ada dapur dan kamar mandi. Diantara ruang tamu dan meja makan disekat dengan sebuah lemari jepara yang sudah tua. Dua kamar tidur adanya di lantai dua. Di rumah tidak ada interior yang bagus atau mahal.

“Rumah tidak berseni dan minus keindahan.”desisku. Mau dipercantik juga tak mungkin, ukuran tanah sudah habis dibuat bangunan rumah. Lagipula dari mana dana untuk itu, sedangkan untuk modal usaha saja Ibu terkadang memutar otak, menghindari kekosongan barang.. Lagipula sejak ayah meninggal sepuluh tahun yang lalu kami sudah membiasakan diri dengan semua ini.

Sepulang dari rumah Tante Muti, ada satu hal yang mengganjal dalam pikiranku. Ketika sedang berdiri di depan pintu rumah tante, tampak sebuah jalan lurus, walau tidak terlalu lebar, menghadap ke rumah tante. Aku jadi teringat pada sebuah buku yang pernah kubaca. Sunny—bekas teman kantorku, pernah meminjamkannya padaku.

“Sonya, bila nanti kamu ingin membangun sebuah rumah, sebaiknya lihat dulu apakah di depan rumah ada yang menghalangi. Seperti jalan lurus, pohon besar, tiang listrik ataupun sesuatu yang kurang menarik pemandangan.”kata Sunny waktu itu.

“Memangnya kenapa, Sun?”

“Kita membangun rumah, tentu dengan maksud akan mendiaminya dalam jangka waktu yang cukup lama. Pemandangan yang indah akan membuat suasana hati terasa nyaman setiapkali kita ke luar masuk rumah. Jika manusia dapat selalu berada dalam suasana hati yang nyaman, maka upaya mencapai kesuksesan akan berjalan lancar. Setiap orang berdiam di rumahnya akan dipengaruhi oleh lingkungan dan medan magnet rumah. Lama kelamaan rumah akan seperti orangnya dan orang akan seperti rumahnya.”

“Memang ada benarnya juga ya, Sun,”

“Hindari rumah yang berhadapan dengan jalan atau disebut Tusuk Sate. Benturan jalan bagaikan sebilah anak panah, lurus menusuk jantung. Tinggal di rumah seperti ini akan didera banyak masalah dalam kehidupan. Kita bagaikan berada di sebuah perahu kecil di tengah amukan ombak besar, tak mungkin tenang.”kata Sunny menjelaskan.

Aku menghela nafas. Apa mungkin aku bicara mengenai rumah tante di saat mereka baru merayakan rumah baru mereka? Saat ini tante, om, beserta ke tiga anaknya tentu sedang menikmati keindahan rumah yang telah berhasil mereka bangun dengan hasil jerih payah mereka selama ini. Haruskah aku merusaknya dengan mengatakan rumah mereka tidak baik menurut ilmu Feng Shui? Bagaimana kalau sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada keluarga Tante? Apa aku harus berdiam diri saja? Apa yang harus kulakukan?

“Sonya…!”teriakan Ibu mengejutkan aku dari lamunan. Segera ku sahuti panggilannya sambil berjalan turun ke bawah. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Di luar terdengar suara hujan disertai gemuruh petir.

“Ngapain aja di atas? Tolong ambilkan Ibu ember, atap di toko ada yang bocor.”

“Baik, Bu.”sahutku dengan segera.

***

Di suatu Minggu siang, aku dan ibu menjenguk Om Danu di rumah sakit. Menurut dokter, Om Danu sakit paru-paru. Selama berada di rumah sakit, Tante Muti terus menemani. Anak-anak tante yang empat orang, pembantulah yang mengurus. Selama lima tahun menetap di rumah mereka, Tante Muti punya anak lagi. Sekarang anak perempuannya sudah berumur dua tahun.

Sekembalinya dari rumah sakit, Om Danu aktif kembali dengan bisnis export importnya, namun tak sampai satu minggu, Om Danu merasa sakit di bagian dadanya. Setelah diperiksa ternyata paru-paru Om Danu harus disedot. Penyedotan pun berlangsung beberapa hari.

Ke luar dari rumah sakit, ada kabar yang mengejutkan! Rekan bisnis Om Danu mencurangi tender yang seharusnya telah didapatkan Om Danu. Kerugiannya mencapai ratusan juta. Kabar ini membuat kemarahan Om Danu merebak. Om Danu mengejar rekan bisnisnya ke luar negeri. Pengejaran itu tanpa hasil, malahan menyeret Om Danu kembali ke rumah sakit.

Kali ini, tante merasa perlu membawa om ke luar negeri. Hasil pemeriksaan dokter amat mengejutkan. Om Danu menderita Kanker Paru-paru stadium 3!

Tante Muti datang ke rumah menemui Ibu, wajahnya yang cantik diselimuti mendung kelabu. Ibu dan tante terlibat pembicaraan penting di ruang tamu.

“Kak Marini, aku khawatir dan tak habis mengerti. Kenapa penyakit itu bisa timbul, padahal abang tidak suka merokok? Aku curiga abang kena guna-guna. Gimana kalau kita ke tempat praktek ahli supranatural, Kak?”pinta Tante Muti pada ibu. Tante Muti memang dekat dengan ibu, karena usia ibu cukup jauh diatas tante. Padahal mereka hanya saudara sepupu. Aku mendengarkan dari belakang sambil mengaduk teh. Kudengar ibu setuju, kemudian aku meletakkan teh untuk tante di atas meja. Kupersilahkan tante minum.

Aku ikut sedih dengan raut wajah tante yang tidak biasanya. Ingatan lima tahun lalu tentang rumah Tusuk Sate membuatku bertekad dan memberanikan diri untuk bicara. Toh yang aku katakan bukan mengada-ada, bukan juga hasil karangan ataupun tahayul.

“Tante, kalau menurut Sonya, masalah bisnis dan penyakit Om Danu, bukan akibat guna-guna. Sonya mau ngomong sama Tante, tapi takut tante marah atau tersinggung,”kataku mengambil kesempatan bicara. Ibu sedang berganti pakaian di atas.

“Ya sudah, ngomong aja, Son. Nggak usah takut.”jawabnya.

“Sonya yakin, setiap orang pasti suka dengan rumah Tante. Hanya saja pintu depan rumah Tante berhadapan langsung dengan jalan. Rumah ini disebut Tusuk Sate. Bukannya bermaksud mendahului Kuasa Tuhan, tapi menghuni rumah seperti ini akan didera banyak masalah dalam hidup.”kataku mulai menguraikan apa yang selama ini mengganjal di hatiku.

“Ah…Sonya, bisa aja kamu ngomong. Belajar dari mana? Setahu tante, rumah kita adalah syurga buat kita. Selama lima tahun ini kami merasa baik-baik aja kok,”senyum Tante.

“Tan, pintu memegang peranan yang amat penting, karena bagaikan mulut manusia. Ada ungkapan mengatakan : penyakit masuk dari mulut, bencana keluar dari mulut.”sahutku lagi. Tante menyimak.

“Rumah diibaratkan sebagai badan. Bagian depan rumah ibarat panca indera. Pintu rumah ibarat mulut. Sisi kiri dan kanan rumah ibarat kaki dan tangan. Ruang tamu ibarat jantung. Kamar kecil ibarat ginjal. Dapur ibarat hati. Kamar tidur ibarat paru-paru. Ruang makan ibarat Limpa. Rumah tak ubahnya seperti sesosok manusia. Bila ada bagian tertentu dari rumah terdapat cacat, tanpa disadari akan mempengaruhi jasmani dan nasib penghuni rumah.”paparku panjang.

“Son, Tante percaya,. masalah dan penyakit om, asalnya dari Tuhan. Maksud tante bertanya kepada ahli supranatural, bagian dari upaya tante agar om sembuh.. Uang yang dilarikan teman bisnis om sudah dilaporkan kepada yang berwajib. Tante yakin semua akan baik-baik saja.”kata Tante optimis.

“Tan, sakitnya om kan telah terbukti dari adanya hasil Medical Check-Up. Kalau sakit Om tidak terdeteksi, itu baru perlu dipertanyakan secara batin. Menurut ilmu Feng Shui sendiri, lebih baik menghindar dari rumah Tusuk Sate, karena kita nggak bisa melawan arus yang deras, Tan.”aku tak kalah optimis dengan argumenku.

Tante menarik nafas. Ditatapnya aku dengan pandangan lurus ke mataku.

“Kalau Sonya berpendapat rumah tante seperti itu, tante jadi berfikir, gimana dengan kondisi rumah kalian sendiri? Mengapa Sonya masih ngejomblo di usia 35 dan sebab apa adik kamu, Handoko terlibat narkoba? Bisa tidak Sonya jelasin ke tante, itu akibat pengaruh apa dari rumah kalian?”

Plak! Aku merasakan tamparan tante. Sakit sekali! Bukan di pipiku, tapi di hatiku. Apa yang diucapkan Tante barusan amat mengejutkanku. Aku tak pernah membayangkan, itu yang akan dikatakannya! Ternyata tidak mudah mengungkapkan sesuatu yang kita anggap baik kepada orang lain. Aku menunduk, menghindari tatapan tajam tante. Kutahan air mataku yang hampir jatuh. Berbeda dengan maksudku ingin peduli pada tante, ucapan tante sendiri mirip sebuah hinaan.

Untunglah ibu telah selesai berganti pakaian, kemudian mengajak tante pergi. Akhirnya bisa memecahkan kebekuan yang tercipta antara aku dan tante. Kalau setelah hari itu tante menjauhiku, aku tak masalah. Ternyata yang membuatku tak enak hati, tante malah ikut menjauhi ibu. Ibu tidak lagi jadi teman curhatnya atau teman untuk pergi mencari pengobatan alternatif untuk Om Danu.

Aku berterus terang pada ibu tentang percakapanku dengan Tante Muti waktu itu. Buntut-buntutnya malah akulah yang disalahkan. Aku dianggap ibu sok kepintaran, seperti orang yang sudah banyak ilmu dan pengalaman hidup. Mau bilang apalagi. Aku tak melawan kata-kata ibu. Aku memang belum menikah, sedangkan Handoko sedang menjalani perobatan di sebuah pusat rehabilitasi narkoba.

Om Danu menjalani kemoterapi. Pihak kepolisian belum berhasil membekuk rekan bisnisnya, terpaksa Om Danu menjual salah satu assetnya untuk biaya perobatan. Tanda-tanda kesembuhan tak juga tampak, kanker Om Danu telah mencapai stadium lanjut! Vonis dokter tak sekeras kenyataan yang kemudian terjadi : Om Danu meninggal dunia di usia yang masih sangat produktif : empat puluh dua tahun.

Beberapa bulan kemudian, aku mendengar Tante Muti telah menutup bisnis export import Om Danu, karena merasa bukan bidangnya. Sebaliknya tante banting stir ke bisnis butik yang akan dibuka di rumah. Aku tak berani memprediksikan apa yang akan terjadi nanti, bila tante tetap tidak beranjak dari rumah itu. Aku tak pernah lagi mengomentari tentang rumah tante. Tidak kepada tante, tidak juga kepada siapa pun. Aku mengunci mulutku dari hal itu. Tidak mau dianggap sok kepintaran lagi. Lagipula aku takut salah bicara.

Tambatan Hati

Baru kemarin mainan itu dibelinya untuk Rere—anak laki-lakinya. Tapi baru dua hari umurnya, mainan itu sudah tak berbentuk. Melihat kenakalan Rere, merebaklah amarah Dina. Tangan kanannya mencubit paha Rere, tangan kirinya menjewer telinga Rere. Menerima hadiah cubitan dari Ibunya, membuat anak tiga tahun itu menangis. Air matanya bercucuran jatuh ke pipinya..

“Re, sudah berapa kali Mama bilang. Jaga mainan kamu baik-baik. Jangan kamu banting dan campakkan. Apa kamu kira ini tidak Mama beli? Mama capek cari duit buat kamu, Re,”Dina berkata dengan kesal. Tiba-tiba Rere menyelusupkan wajahnya ke samping tubuh Mamanya. Dina menghela nafasnya. Menyudahi amarahnya.

“Ya, sudah. Lain kali jangan gitu lagi ya, Sayang. Sekarang Rere makan, ya.”Dina bergegas menyiapkan makanan buat Rere. Setelah itu ia kembali ke dapur melanjutkan pekerjaannya. Namun tujuh menit kemudian kembali suaranya menggelegar.

“Rere, kenapa nasinya nggak dimakan? Aduh, ini anak. Kan sayang nasinya jadi terbuang ke lantai. Apa Rere nggak bisa tolongin Mama sedikit saja?”kembali Dina kesal dengan tingkah Rere memainkan nasi dengan sendok, sehingga beberapa butir nasi tercampak dari piring, mengotori lantai. Sekali lagi cubitan Dina bersarang ke tubuh Rere. Kembali tangis Rere terdengar..

“Ada apa ini, kok dari tadi Rere menangis?”Ibu keluar dari kamarnya. Rere langsung berlari memeluknya. Dina memperhatikan dengan pandangan kurang senang. Setiap ada persoalan dengannya, Rere selalu mencari perlindungan pada Neneknya. Soalnya beliau sering membela Rere. Hal ini yang membuat Rere jadi makin tidak karuan tingkahnya di depan Dina. Apalagi tak jarang Nenek memarahi Dina di depan Rere.

“Din, bukan dengan cara kekerasan kau mendidik anakmu, nanti dia akan meniru apa yang kau lakukan!. Kamu seharusnya bisa membujuknya. Dia kan masih anak-anak. Belum mengerti apa yang kau katakan,”kata Nenek Rere. Hampir saja makian Dina berloncatan keluar dari mulutnya, kalau tidak mengingat orang yang barusan bicara adalah Ibu kandungnya sendiri! Sebenarnya ia tidak terima Ibu berkata seperti itu di depan Rere. Itu hanya akan menciptakan sebuah jurang yang dalam antara ia dan Rere. Membuat Rere merasa apa yang ia lakukan benar dan apa yang dilakukan Dina padanya salah! Lihatlah, tatapan Rere padanya seolah-olah ingin mengejeknya! Dina tidak berkata apa-apa. Dia beranjak menuju kamarnya untuk bersiap-siap berangkat ke kantornya.

Akhir-akhir ini, supermarket tempat Dina bekerja sangat berkurang omset penjualannya. Pembayaran tagihan ke supplier pun terhambat. Untuk urusan ini, Dinalah yang disuruh Pimpinan menerima komplain dari para supplier itu. Konsekuensinya, membuat kepala Dina pusing tujuh keliling!

Dina menghela nafasnya. Di rumah ia bermasalah dengan Ibu dan Rere, di kantor bermasalah dengan konsumen.

Ia teringat pada tambatan hatinya. Sebenarnya setelah memarahi Rere, hati kecilnya sangat menyesal. Tapi kalau Rere sudah kumat nakalnya, amarah Dina sering muncul. Rasanya Rere bukanlah Rere, tapi Leo—Papanya.

Saat melahirkan Rere, Leo tidak ada di sisinya. Berhari-hari tidak pulang. Ternyata, Leo tertangkap aparat kepolisian karena membawa satu kilogram ganja! Sungguh, hati Dina hancur berkeping-keping. Dina tidak pernah menyangka di samping pekerjaan tetapnya sebagai Salesman, Leo sering bertransaksi Narkoba dan sejenisnya. Dina tidak pernah memimpikan mempunyai suami yang mendekam di dalam kurungan penjara selama tujuh tahun! Jalan perceraian pun ditempuh Dina.

Untung ada Rere yang lucu, menghibur hatinya. Yang ia teteki dengan air susunya. Menumbuhkan benih-benih cinta dari hati seorang Ibu untuk anak yang dikasihinya. Dina juga bersyukur ada Ibu yang mau turun tangan mengurusi Dina selama melahirkan. Kasih Ibu tak pernah luntur padanya meski ia telah mempunyai anak. Meski ia telah menjadi seorang janda.

Dina keluar dari kantornya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam, senja mulai membayangi sekeliling bumi. Udara terasa gerah. Kening dan pelipis Dina berkeringat. Ia membayangkan segelas jus jeruk dengan batu es yang bergelantungan di atasnya. Dia singgah ke sebuah cafe.

“Dina…”ada yang menegurnya. Dina berpaling. Seketika ia gembira melihat seseorang di kursi dekat jendela. Syalman, teman satu SMAnya! Mereka bersalaman. Dina duduk di sebelah kursi Syalman. Mereka berbagi cerita satu sama lain.

Syalman menetap di Jakarta. Beberapa hari ini ada urusan ke Medan. Ia bekerja di sebuah perusahaan export import. Sedangkan Istrinya membuka salon. Mereka dikaruniai dua orang anak. Dina mendengarkan.

Ketika Syalman menanyakan dirinya, Dina tak bisa mengelak untuk menceritakan semua kisah hidupnya. Syalman menghela nafasnya, tidak menyangka kehidupan Dina seperti dalam Sinetron!

“Dina, pernah tidak kamu berfikir, siapa yang akan menyayangimu di usia empat puluh tahun?”Syalman menatap Dina lekat.

“Mungkin tidak seorang pun, Man.”Dina menggeleng sedih. Hatinya ikut pedih.

“Kau salah. Dia sekarang sedang kau pupuk kasih sayangnya. Rere. Dia yang akan menyayangimu. Kau tunjukkan kasih sayangmu sepenuhnya saat ini untuknya. Dia akan tahu siapa yang menyayanginya. Dan di saat usiamu empat puluh tahun nanti, dia akan membalas kasih sayangmu! Meskipun benih Leo ada dalam dirinya, tapi kau yang mengasuhnya! Dia ada di tanganmu sekarang. Kau yang akan memberikan corak untuk kehidupannya, Din.”Syalman berkata pasti.

“Tapi, entah kenapa Rere tidak mau nurut sama aku, Man. Makanya sering aku emosi dibuatnya,”

“Hentikan menghukumnya secara fisik, Din. Perbanyak sabar. Saat ini hidupmu memang tidak seimbang. Kau masih muda. Jalanmu masih panjang. Apa kau tidak ingin membangun rumah tangga yang bahagia dan harmonis?”Syalman menggenggam jemari Dina. Seakan memberinya kekuatan.

“Ya, kuakui memang tidak mudah mengurus Rere. Aku tidak mau Rere tahu bagaimana ayahnya, Man. Aku tidak ingin Rere seperti ayahnya! Tapi aku belum menemukan pria yang tepat untuk menikah lagi!”mata Dina berair. Pandangan matanya nanar menatap ke arah luar jendela.

“Ini contoh egonya manusia. Di satu sisi kau ingin Rere patuh padamu. Tapi di lain sisi, kau tak pernah mau tahu kebutuhannya. Kenapa kita mau diperintah di kantor? Karena ada yang diharap, yaitu uang. Gimana Rere bisa nurut kalau ia tidak sama seperti temannya yang punya papa? Kalau dia punya papa, pasti ia jadi anak baik dan penurut.”

Dina terperangah. Selama ini ia tak pernah berfikir tentang kealfaan sosok ayah buat Rere. Ya…figur ayah memang tak pernah Rere dapatkan sejak ia lahir ke bumi. Harusnya Dina lebih peka terhadap perasaan Rere. Bukannya bertindak sesuka hatinya. Mengingat itu hati Dina sangat terpukul. Tiba-tiba ia bangkit dari kursinya, mengatakan pada Syalman ia harus segera pulang!

Syalman mengikuti Dina setelah membayar bill mereka. Kemudian dia menawarkan jasa untuk mengantar Dina

Menyipit mata Ibu melihat Dina membawa teman lelaki ke rumah. Namun hanya sebentar. Sejurus kemudian matanya membulat, ketika menyadari siapa yang berdiri di depannya. Syalman, teman akrab Dina. Keduanya bersalaman dan saling menanyakan kabar. Syalman, satu dari lima teman akrab Dina di SMA. Susi, Wina, Dewi dan Taufik—keempatnya juga teman akrab Dina.

Dina masuk ke dalam rumah. Tujuan utamanya, bertemu Rere. Itu Dia! Matanya yang bulat sedang assyik mengamati acara di TV.

Hal yang tak pernah Dina lakukan, ia lakukan. Berlutut kakinya di depan tubuh mungil anaknya. Ia ambil jemari yang lembut itu dan digenggamnya dengan erat. Diciumnya, kemudian diletakkan di kedua pipinya bergantian. Dina tak peduli betapa keheranan Rere. Ia peluk tubuh itu. Ia amati raut wajah yang sebagian besar mirip dirinya itu dengan penuh kasih. Seolah sudah lama sekali tak berjumpa dengannya!

“Rere, maafkan Mama selama ini kasar sama Rere. Mama suka cubit Rere, jewer telinga Rere, Mama juga pernah menampar pipi Rere. Mama salah. Mama nggak seharusnya begitu. Maafkan Mama ya, sayang,”ujarnya dengan air mata berderaian di kedua pipinya. Rere menatap Mamanya. Melihat kesedihan Mamanya, ia seakan mengerti arti kesedihan itu. Rere pun menangis. Mereka berpelukan.

“Kita akan mulai hidup yang baru, Re. Kita buat rumah ini jadi damai dan bahagia. Mama akan berbuat apa saja untuk kebahagiaan kita. Maafkan Mama selama ini tidak memedulikan perasaanmu, Nak!”berbinar mata Dina setelah semua ia ungkapkan. Ibu dan Syalman memandang mereka dengan haru. Kebahagiaan menyelimuti mereka malam ini.

***

Di Balik Awan

Lelaki yang telah mendampinginya selama empat belas tahun itu menatapnya dengan pandangan penuh penyesalan, seolah dia telah melakukan sebuah kesalahan besar dalam hidupnya. Perempuan itu tak kalah terkejutnya. Telinganya seperti mendengar suara dentuman senapan dari jarak yang sangat dekat. Keras dan amat mengejutkan. Perempuan mana yang tidak akan cemas, saat mendengar suaminya dipehaka dari perusahaan tempatnya bekerja? Tapi di depan suaminya, perempuan itu bagaikan seorang ahli terapis. Tenang, lembut dan bijaksana.

“Abang tidak boleh menyerah. Dalam hidup, acapkali ada hal-hal yang mungkin tidak pernah kita bayangkan akan terjadi, tapi harus kita terima dengan lapang dada. Yakinlah, peluang pekerjaan masih terbentang buat abang di luar sana,”

Dia palingkan wajah sejenak dari pandangan suaminya dan menatap lurus ke langit biru. Gugusan awan putih berarak di langit, membentuk lingkaran-lingkaran tak beraturan, tapi tetap tampak indah. Perempuan itu menaruh harapan besar, di hari-hari berikutnya suaminya dapat meraih pekerjaan barunya. Meneruskan hidup dalam rumah mungil, hadiah perkawinan dari ayah Safna jauh sebelum beliau menghadap Tuhan..

Kenyataannya tidak mudah mencari pekerjaan untuk lelaki berusia empat puluh dua tahun. Apalagi di tengah kecamuk persoalan krisis global yang terjadi di mana-mana. Safna sudah berusaha mencari informasi lowongan pekerjaan untuk suaminya, bahkan sudah pula melayangkan surat lamaran ke beberapa perusahaan, namun belum ada satu perusahaan pun yang menjawab dengan panggilan wawancara.

Suami Safna mencoba menjadi seorang perantara atau agen. Lagi-lagi alasan krisis global menjadi momok yang menakutkan. Tidak gampang mencari seorang pembeli untuk tanah, rumah maupun kenderaan yang dijual pemiliknya. Sebagai konsekuensinya, suami Safna lebih banyak berada di rumah. Acapkali, setiap Safna pulang bekerja, Mirza menyiapkan teh manis hangat dan sepiring biskuit untuk mereka nikmati berdua, sambil menikmati senja di beranda rumah.

“Na, kau tidak malu dengan kondisi abang tidak bekerja? Apalagi sebagai perantara abang belum berhasil menjual apa-apa. Sekarang zamannya orang sulit membeli sesuatu, bila tidak sangat butuh dan penting. Tidak seperti dulu, orang masih sering menggunakan uangnya untuk berinvestasi atau memperbanyak aset,”kata Mirza, setelah meneguk teh sedikit.

“Kenapa harus malu, Bang? Di masa sekarang ini banyak perempuan yang bekerja untuk keluarga, karena suaminya dipehaka atau mengalami sakit. Itu tidak usah abang pikirkan,”jawab Safna santun.

Mirza terdiam. Di tengah kegalauan hatinya, kata-kata Safna seperti air dingin yang menyejukkan, mengaliri hatinya. Mirza merasa bersyukur memiliki istri seperti Safna. Selama Mirza tidak bekerja, sikap Safna tetap mencerminkan kelembutan seorang istri. Tidak pernah Safna menunjukkan sesuatu yang meremehkan diri Mirza. Tapi sampai kapan Safna akan menjadi tulang punggung keluarga seperti ini dan sampai kapan Mirza akan berpangku tangan tanpa menghasilkan apa-apa? Safna mungkin masih akan tetap menerima dirinya, tapi bagaimana dengan khalayak ramai? Apa mereka tidak akan mencemooh dirinya yang hidup dari penghasilan istri?

“Abang sedang memikirkan apa? Kok diam aja?”

Mirza tergeragap. Tatapan Safna sedang tertuju ke arahnya.

“Abang teringat sama si Amir. Setelah menikah dan punya anak, jarang sekali dia berkunjung ke rumah kita,”kata Mirza berusaha menutupi perasaannya.

“Tanjung Pura-Medan kan lumayan jauh bila ditempuh dengan sepeda motor, Bang. Apalagi setelah Amir punya dua anak. Mungkin itu alasannya jarang ke Medan,”

Safna paham, bagaimana sayang Mirza kepada adik bungsunya. Hanya mereka berdua anak lelaki dalam keluarga. Dari enam saudaranya, hanya Mirza yang tinggal di Medan.

“Na, abang tidak mungkin terus begini. Ada banyak hal yang ingin abang wujudkan untuk rumah tangga kita. Abang akan menjual tanah di kampung,”ujar Mirza pelan, tapi terkejut Safna mendengarnya.

“Abang akan menyuruh Amir membuat sebuah papan bertuliskan “Dijual” di atas tanah abang beserta nomor ponsel yang bisa dihubungi,”wajah Mirza tampak cerah merona. Safna ikut tersenyum, sambil menganggukkan kepala.

***

Mirza merenovasi beberapa bagian tertentu dari rumah, untuk mengantisipasi masuknya air hujan ke dalam rumah. Beberapa waktu lalu, mereka harus menguras air dan mengangkat barang-barang dari ruang tamu dan kamar tidur untuk menghindari air yang bercampur lumpur. Mereka melakukannya hanya berdua, sebab tidak ada orang lain di rumah itu.

Seorang teman baik Mirza memberikan pinjaman berupa bahan-bahan untuk merenovasi rumah. Mirza berjanji akan melunasinya dalam tempo dua bulan. Safna paham. Tidak mungkin dia menolak sesuatu yang sudah menjadi rencana suaminya, karena itu bisa melukai perasaannya.

Kabar perihal tanahnya di Tanjung Pura selalu ditunggu Mirza, tapi belum juga ada kabar yang menggembirakan. Padahal Collector dari toko teman baik Mirza sudah datang menunjukkan tagihan. Mirza bingung campur cemas, karena untuk membayar hutang belum punya uang.

Sampai suatu hari, Amir datang untuk meminta tanda tangan Mirza sebagai salah satu ahli waris. Amir malah mengabarkan, tanah miliknya dan milik Kak Ratna--kakak sulung mereka sudah mencapai deal dengan pihak pembeli. Bagaimana dengan tanah Mirza sendiri?

“Apa tanah bagian abang tidak ditengok orang, Mir? Bukannya tanah abang justru yang berada di depan?”heran Mirza.

“Amir kurang tahu, Bang. Sepertinya dia hanya tertarik membeli tanahku dan tanah kak Ratna,”

Mirza menahan kekesalannya. Usut punya usut, ternyata harga tanah Mirza yang ditawarkan Amir pada calon pembeli lumayan tinggi, berbeda cukup jauh dari harga yang dia patokkan untuk tanahnya dan kak Ratna. Pantaslah orang berfikir dua kali untuk membeli tanah Mirza. Sepertinya Amir sengaja supaya tanahnya dan tanah kak Ratnalah yang diambil orang..

Ketika Mirza mengkonfirmasinya kembali pada Amir, adiknya itu malah tidak mengaku telah bersikap curang. Mirza malah merasa seperti ditantang adiknya.

“Abang kok lucu? Orang tanah aku dan Kak Ratna yang dibeli orang, kok abang seperti nggak suka?”

“Jelas abang nggak suka, karena kau tidak adil sama abang. Kalau tidak urgen, abang tidak harus menjualnya, Mir. Sudah beberapa bulan ini abang tidak bekerja lagi!”

“Tapi bukan berarti abang harus menyalahkan aku, bila orang lebih memilih tanahku dan tanah Kak Ratna kan? Mungkin tanah abang belum waktunya dibeli orang.”

“Sampai hati kau berkata seperti itu pada abang, Mir. Tidak abang sangka kau seperti ini. Kau anggap apa abang ini?”

***

Perempuan itu duduk di beranda rumah, saat matahari akan berlindung di balik bukit. Dalam tatapannya ada luka dan air mata. Dia menatap langit, dihiasi awan putih. Seolah di balik awan tersembunyi sebuah ruangan. Sebuah tempat yang dihuni oleh seorang laki-laki yang sangat dirindukannya, yang hanya dapat tertembus oleh sinar matanya.

Kapan lagi dia dapat menikmati senja seperti ini, bersama lelaki yang cintanya terus melekat di hatinya? Kapan lagi dia dapat bertemu dengan lelaki itu dan hidup bersamanya? Dia masih tak percaya, Mirza meninggalkannya secepat ini. Dia biarkan tetes demi tetes air matanya jatuh berderai, membentuk telaga di hatinya.

“Kak, kenapa abang tidak mengizinkan aku masuk ke ruang ICU? Apa salahku?” tanya Amir setelah proses pemakaman Mirza.

“Tanya dirimu sendiri, Mir. Bukankah kau tahu abangmu sudah pernah kena serangan jantung dua belas tahun lalu? Kenapa kau melukai perasaannya, sehingga dia harus mengalami serangan yang kedua dan pergi untuk selama-lamanya?”

“Perkawinan bang Mirza dan kak Safna tidak menghasilkan keturunan. Jadi kalau tanah bang Mirza nanti dibeli orang, kak Safna tidak mendapat bagian,”

“Ambillah. Ambil saja semua untukmu, Mir. Aku tidak peduli,”

“Bagaimana dengan peninggalan abang di rumah ini?”

“Rumah ini peninggalan orang tuaku dan semua isinya, tidak pernah bang Mirza campuri. Apalagi sejak bang Mirza tidak bekerja lagi. Inikah balasanmu atas kasih sayang yang diberikan abangmu selama ini untukmu, Mir?”Amir terdiam. Entah sedang menyesal atau merasa malu dengan sikapnya sendiri.

Perempuan itu beranjak dari beranda, lalu menangis tersedu di balik pintu.

Tidak Ada Cinta Hari Ini

Malam, mungkin telah sempurna menorehkan mimpi-mimpi kepada penikmat lelap. Tidak demikian dengan Riri. Dia terjaga dari tidurnya, yang baru beberapa jam ia lalui. Di samping kirinya masih kosong. Hendra belum juga menggeletakkan tubuhnya untuk tidur.

Riri menggeleng-gelengkan kepalanya. Di saat orang-orang menggunakan waktu di malam hari untuk beristirahat, suaminya justru masih menonton TV. Masih untung hari ini suaminya tidak ke mana-mana. Beberapa waktu lalu, Hendra malah tidak pernah pulang ke rumah, sebelum pukul satu pagi. Riri tidak habis mengerti dengan sikap suaminya.

“Kenapa abang belum tidur? Besok, bangunnya kesiangan,”Riri duduk di salah

satu kursi.

“Abang belum ngantuk, Ri. Ada beberapa hal yang harus abang persiapkan untuk meeting besok,”sahut suaminya.

“Bang, hampir setiap hari abang begini. Rokok abang pun nggak pernah ketinggalan. Habis satu puntung, hisap lagi yang baru. Riri khawatir dengan kesehatan abang,” Hendra tertawa kecil.

“Abang sudah biasa begini, Ri. Kau nggak usah khawatir,”

“Sekarang berbeda, Bang. Abang, suami Riri. Pantas Riri mengingatkan abang,”.

“Tidurlah duluan, Ri. Besok, kau juga bekerja. Kalau abang sudah selesai, nanti abang pasti akan tidur,”

“Riri nggak mau tidur, kalau abang tidak tidur di samping Riri,”

Kali ini, Hendra menatap wajah isterinya.

“Aduh, Ri. Ini bukan persoalan abang harus tidur atau nggak. Tolong kau mengerti. Abang harus memikirkan sebuah cara baru meningkatkan penjualan. Belakangan ini tim abang ditegur oleh atasan, karena kurang memenuhi target!”

“Kenapa memikirkannya tidak besok saja, setelah bangun tidur? Bukankah berfikir di pagi hari lebih segar, ketimbang di tengah malam seperti ini?”

Hendra menarik nafas. Tiba-tiba dia mulai merasa jengah.

“Ri, kau boleh mengingatkan abang, tapi bukan mengajari abang. Kalau kau memang tidak suka abang seperti ini, pelan-pelan akan abang rubah. Tolong jangan pernah mengatur abang, atas apa yang abang harus lakukan,”

“Riri bukan mau mengatur abang. Riri hanya merasa aneh dengan sikap abang.

Banyak laki-laki yang bekerja, dengan berbagai profesi, tapi mereka bisa mengatur waktunya dengan baik. Ada saatnya waktu untuk bekerja, ada pula saatnya waktu untuk beristirahat. Bagaimana abang bisa mendapatkan ide-ide baru untuk meningkatkan penjualan bagi tim abang, kalau tubuh abang tidak fit?”

Mendengar kata-kata Riri barusan, membuat Hendra mulai geram. Sudahlah dia merasa pusing dengan pikiran yang memenuhi kepalanya, kini ditambahi pula dengan sikap Riri. Di depannya, Riri tidak ubahnya seperti seorang polisi lalu lintas, yang sedang menasehati seorang pemakai jalan raya yang tidak mentaati peraturan.

“Kemaren-kemaren, abang pulang jam satu pagi, kau ngomel. Kau bilang, apa yang abang cari di luar rumah sampai jam satu pagi? Kalau untuk mengobrol, bukankah di rumah sudah ada Riri? Oke, abang nggak keluar rumah lagi, seperti yang kau mau. Tapi sekarang, abang sedang nonton TV sambil berfikir, kau juga ngomel. Sebenarnya maumu apa sih, Ri?”

“Riri cuma pengen menikmati kehidupan rumah tangga yang normal, seperti pasangan suami isteri yang lainnya. Bukan seperti ini, Bang,”

“Jadi singkatnya, kau menyesal kawin sama abang, Ri?”Mata Hendra tak berkedip menatap Riri.

“Kalau terus-terusan begini, sudah pasti ya, Bang. Riri nggak menyangka rumah tangga Riri akan seperti ini!”

Plak! Itulah jawaban Hendra atas kata-kata Riri barusan.

“Augh!”Riri memegang pipi kanannya. Riri tidak kuasa menahan air matanya. Tangan Hendra yang biasa memeluk tubuhnya, menyentuh bibirnya, membelai rambutnya, kini telah melayang ke wajahnya! Berlari, Riri meninggalkan Hendra yang sedang dirundung emosi. Sesampainya di dalam kamar, Riri menelusupkan wajahnya ke bantal.

***

Ada perasaan tak nyaman bersemayam di hati Riri. Kejadian tadi malam sungguh berbekas di hatinya. Baru setahun usia perkawinannya dengan suaminya, tapi Hendra sudah seenaknya main tangan. Justru dilatarbelakangi suatu masalah yang berasal dari dirinya sendiri! Kebiasaan Hendra yang tidak bisa mengatur waktunya, sungguh dibenci Riri!

”Lelaki memang begitu, Ri. Jangan sekali-kali kau pancing emosinya. Kalau di otak mereka sudah ada sesuatu yang dipikirkan, pasti bawaannya emosi. Kalau di saat suamimu sedang begini, jangan kau omeli lagi. Makin runyamlah suasana,”kata kak Wita, teman sekantor Riri.

“Kak, apa aku harus memahami cara hidup suamiku seperti itu? Sampai kapan dia akan seperti itu? Kalau aku tahu, dia tidak bisa memanajemeni hidupnya dengan baik, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk menikah dengannya,”

“Hush! Tidak baik ngomong seperti itu, Ri. Setiap laki-laki yang menjadi suami kita, pasti mempunyai kekurangan dan kelebihan. Kalau dia punya kekurangan, tutupilah kekurangannya itu dengan kelebihan yang kita punyai. Barulah namanya klop sebagai suami isteri. Kebiasan yang sudah lama dilakoni Hendra, tidak bisa dalam sekejap dia rubah. Bukan berarti dia tidak mencintaimu, Ri,”

Di kantornya, Hendra tidak bisa berkonsentrasi dengan baik. Beberapa kali dalam meeting pagi tadi, dia ditegur bawahannya karena melamun. Hendra menyesali tangannya yang lancang.

“Riri sayang, sudah makan siang? Tadi malam, abang khilaf. Tidak seharusnya abang menampar Riri. Abang minta maaf. Kalau perlu, Riri balaslah menampar abang seratus kali. Abang rela, asal Riri tidak marah lagi sama abang. Abang janji, tidak akan mengulangi perbuatan abang yang tidak terpuji, Ri,”kata Hendra lewat sms.

“Bang, hati Riri terluka karena sikap abang. Mungkin selama ini abang merasa Riri selalu menghalangi kebebasan abang, tapi sekarang abang bebas mau pulang jam berapa dan tidur jam berapa . Riri tidak akan mengganggu abang lagi!”

Senja telah mendaftarkan diri di langit. Ditandai dengan warna jingga, yang tersembul di cakrawala. Burung-burung beterbangan. Ada segerombolan, ada pula yang bersendiri. Hendra sedang berfikir keras, bagaimana melumerkan kebekuan hati Riri.

Besok, Sabtu. Biasanya di hari itu, mereka bersenang-senang. Bangun tidur, menyetel kaset. Membersihkan rumah, kemudian pergi berenang. Makan di luar. Mengunjungi ibu atau salah seorang teman. Bercanda dan tertawa ria, kemudian malamnya bermesraan. Apa yang terjadi besok? Hendra menggumul rambutnya dengan tangannya. Beberapa saat pikirannya hilir-mudik, mencari jalan keluar untuk dia dan Riri.

Tiba-tiba otaknya tersangkut sebuah ide! Kemudian dia menelepon Dani, temannya yang baru mempunyai bayi berusia beberapa bulan.

Dani datang beserta istri dan bayinya, sesuai waktu yang mereka sepakati. Riri yang membukakan pintu. Kehadiran seorang bayi di rumahnya, amat disenanginya. Digendongnya bayi mungil bernama Zaki itu, lalu didaratkannya ciumannya ke dahi, mata, hidung dan pipi Zaki. Diajaknya Zaki bicara, sehingga terdengar tawa Zaki berderai. Riri senang!

“Bang, lihatlah Bang, Zaki tertawa lucu sekali!”Ucap Riri. Penuh semangat, tanpa beban. Hendra menyusul di balik tubuh Riri.

“Kalian harus secepatnya buat perencanaan untuk punya bayi, jangan lama-lama lagi,”cetus Dani. Isteri Dani ikut menimpali dengan tawanya.

“Iya, Ri. Kapan di rumah kita, akan direcoki suara tangis bayi? Kapan tangan kita akan menggendongnya? Kau nggak kepengen, Ri?”

Riri mencium kening Zaki, lalu katanya.

“Yang tidak kepengen punya bayi itu siapa, Bang? Abang sih, tahunya cuma begadang. Bukannya mikirin, bagaimana caranya di dalam rahimku, tumbuh seorang Hendra junior,”

Wajah Hendra memerah, mendengar kata-kata Riri. Bukan karena amarahnya muncul, tapi karena dia merasa malu di hadapan Riri, Dani dan isterinya. Di samping itu, hatinya juga merasa berbunga-bunga, karena Riri sudah mau bicara lagi padanya. Kebekuan di hati Riri, melumer. Itu berarti, ketakutannya mengenai Sabtu besok, yang akan berlalu dengan kebekuan, tidak akan terjadi. Dia dan Riri akan bersenang-senang, seperti biasanya. Hendra tersenyum penuh arti.

Riri semakin assyik bercanda dengan Zaki, sementara Hendra dan Dani saling bermain mata di belakangnya.

***

Suatu Hari Di Tempat Praktik Pak Saddat

Lelaki tua itu bekerja dengan jari telunjuk dan jempolnya. Ke dua jarinya bergerak di atas jari-jari kakiku, seperti gerakan memilin-milin. Lembut, tidak sampai menguras tenaga, tapi bagiku sebagai si empunya kaki bukan main sakitnya. Aku kerap beraduh-aduh ria. Tak jarang tanganku ikut memegangi kakiku, membuat lelaki itu berhenti sejenak dari kegiatannya.

“Sakit ini berasal dari asam lambungmu. Kalau yang ini berhubungan dengan syaraf otak di kepalamu. Pening-pening di kepalamu itu diakibatkan peredaran darah di tubuhmu tidak lancar,”ujarnya menerangkan seperti seorang dokter kepada pasiennya.

Aku meringis. Teringat kejadian beberapa waktu lalu yang sempat membuatku tak berdaya. Saat berbaring di tempat tidurku, tiba-tiba pandanganku berputar. Aku seperti merasakan kekuatan gempa sedang berlangsung di atas tempat tidurku. Perutku tiba-tiba seperti dikocok-kocok menghasilkan mual yang sangat hebat. Aku berteriak memanggil emak. Kupegangi kepalaku dengan kedua telapak tangan sampai menutup mataku.

Sakit kepala yang biasa menyerangku, tidak pernah sampai separah itu. Dokter menyebut penyakit ini dengan istilah Vertigo. Aku diberikan beberapa macam obat untuk memulihkan kondisiku. Vertigo membuatku tidak bisa berbaring ke arah kiri. Tidak bisa menundukkan kepala saat sedang berdiri. Aku pun tidak bisa sepenuhnya bersujud dengan kening menyentuh sajadah.

Selain mengunjungi dokter, emak membawaku ke praktek Pak Saddat. Emak mengetahui informasi mengenai Pak Saddat dari teman satu pengajiannya.. Semula Bu Arfah didiagnosa dokter menderita penyakit kista, tapi setelah menjalani terapi secara berkala di tempat praktek Pak Saddat, beliau batal dioperasi dan dinyatakan sembuh!

“Husna Fitriyani, ibarat Televisi, tubuhmu yang tampak dari luar itu adalah layar televisi, tapi remotenya ada di sini,”tambahnya dengan menunjuk jari-jari di kakiku. Menerangkan hubungan jari-jari di kakiku dengan syaraf di bagian otak dan lambungku. Aku mengangguk-anggukkan kepala mendengar analogi yang disampaikannya.

Acapkali lelaki tua yang selalu memakai lobe putih di kepalanya memanggil nama lengkapku di sela-sela terapinya. Menurut beliau, kalau beliau dapat segera menyebut dan menghapal nama pasiennya, itu berarti sang pasien mudah untuk beliau sembuhkan. Tapi bila sebaliknya, maka sang pasien agak sulit mencapai kesembuhan. Tapi apa hubungannya? Pikirku.

Ke dua jari Pak Saddat kini berpindah ke jari-jari tangan sampai pangkal lenganku. Sejenak aku melayangkan tatap ke arahnya. Wajahnya memancarkan keramahan, meski pelipis dan tubuhnya diserbu keringat. Dia bekerja dengan penuh semangat. Dia selalu tampak ceria, sehat dan luwes. Padahal usianya sudah lebih kepala enam, tapi tak kalah dengan orang berusia tiga puluh tahun sepertiku. Sebelum giliranku, dia telah mengobati beberapa pasien lain dengan berbagai macam penyakit. Ada yang mengalami stroke. Ada yang terkena sinusitis. Ada pula pasien anak yang autisme. Pokoknya macam-macamlah. Bahkan masih ada pasien yang sedang menunggu di luar. Pak Saddat dengan setia mengurus semua pasiennya.

Mulanya aku tidak percaya kata-kata emak. Bagaimana mungkin dengan cara pengobatan yang dilakukan Pak Saddat bisa menyembuhkan penyakit? Dengan hanya menggerak-gerakkan jari telunjuk dan jempolnya di kaki dan tangan pasiennya, dia dapat mengetahui penyakit yang diderita pasiennya sekaligus mengobatinya? Bahkan aku menganggap emak terlalu berlebihan.

“Husna, kau harus rajin terapi, percuma kalau kau datang sebulan sekali ke mari. Tidak akan nampak hasilnya. Nanti, setelah kau merasa sehat, mau datang sekali atau dua kali seminggu tidak masalah,”kata Pak Saddat sambil bangkit dari duduknya. Terapi selama tiga puluh menit sudah berakhir. Pak Saddat melap wajah dan pelipisnya dengan handuk kecil yang diletakkan di pundaknya.

Aku tersenyum. “Insya Allah, setelah ini saya rutin, Pak. Terima kasih,”jawabku sambil menyelipkan uang enam puluh ribu ke tangannya. Dia mengucapkan terima kasih.

Wajahnya masih sama seperti saat pertama kali aku melihatnya. Senyum ramahnya tidak pernah sirna dari bibirnya. Tiba-tiba aku merasa sangat kecil di hadapannya karena sempat meremehkannya.

Aku jadi terdorong untuk menerapkan hidup sehat setiap harinya. Mengatur waktu dan pola makanku dengan baik. Aku lebih sering makan sayur-sayuran dan buah-buahan dan tidak tidur larut malam. Pak Saddat saja yang usianya sudah lebih kepala enam mampu mempertahankan kesehatannya, kenapa aku yang separuh dari usianya tidak mampu? Pikirku.

Dan entah kenapa, aku pun jadi menghubung-hubungkan profesi Pak Saddat dengan hobiku dalam menulis. Bukan tidak mungkin, dari awalnya sebagai hobi, menulis kujadikan sebagai profesi. Dengan catatan, pekerjaanku sebagai sekretaris di sebuah perusahaan swasta tidak boleh terganggu.

Aku merasa sepertinya ada satu kesamaan di antara kami. Seperti Pak Saddat ingin menargetkan kesembuhan bagi para pasiennya, mungkin seperti itulah aku ingin karya-karyaku tumbuh dan berkembang. Diminati setiap pembaca setiaku. Ketika tahu aku suka menulis, Pak Saddat malah antusias mendorongku.

“Husna, teruslah menulis. Jangan berhenti, meski ada rintangan menghalangimu. Sebuah profesi lahir dari ketekunan dan kerja keras yang kita lakukan. Tetap semangat dan buang rasa jemu di hatimu,”katanya.

Pada kunjunganku yang ke sekian kalinya, aku jadi tahu bahwa Pak Saddat pernah menjadi supir bus antar lintas provinsi selama bertahun-tahun. Aku seolah tak percaya, orang seperti Pak Saddat ternyata pernah menjadi supir bus yang handal?

Suatu hari, Pak Saddat pernah menolong seorang lelaki tua yang menumpang di busnya. Entah bagaimana, lelaki itu tampak kelelahan dan sakit-sakitan. Pak Saddat memberinya minuman, makanan dan pengobatan sampai lelaki tua itu tampak segar kembali. Ternyata, lelaki tua itu sering dijumpai Pak Saddat di hari-hari berikutnya. Tanpa pernah disangka, kalau lelaki tua itu mewariskan ilmunya kepada Pak Saddat!

Mula-mula Pak Saddat menerapkannya pada keluarga. Semakin hari, banyak dari tetangga yang datang ke Pak Saddat bila sedang sakit, bahkan rela menunggu kepulangan beliau dari luar kota.

“Istri saya jadi bertanya, mau menolong orang atau tetap sebagai supir bus? Maka, saya memilih berhenti jadi supir bus dan memutuskan untuk menolong orang,”katanya.

Sejak saat itu, nama Pak Saddat mulai dikenal. Keahlian beliau mengobati penyakit menjadi pembicaraan orang dari mulut ke mulut. Aku pernah bertemu seorang pasien Pak Saddat. Pasien itu sudah belasan tahun percaya pada kemampuan Pak Saddat. Dari biaya berobat masih berkisar tiga ribu rupiah sampai menjadi enam puluh ribu rupiah, pasien itu tetap kembali ke praktek Pak Saddat.

Dari hasil membuka praktek, Pak Saddat telah naik haji bersama istrinya. Pak Saddat juga telah membelikan ke lima anaknya rumah yang layak. Pak Saddat sendiri tetap sebagai sosok bersahaja. Disenangi para pasien dan warga di lingkungan tempat tinggalnya. Baik, ramah dan suka menyumbang.

***

Menyadari efek kesembuhan dalam diriku, aku tak ragu merekomendasikan Pak Saddat kepada tetangga dan teman-temanku. Aku sendiri, karena merasa tubuhku jauh lebih sehat mengurangi pertemuanku dengan Pak Saddat.

Acapkali, aku mendapatkan salam Pak Saddat dari mereka. Pak Saddat juga menanyakan, apakah asam lambung dan vertigoku sudah benar-benar sembuh dan aku sudah makin produktif menulis? Kalau sudah begitu, aku akan melepaskan tawaku dan merasa sangat dekat dengan beliau.

Dua hari ini, entah kenapa aku selalu teringat pada Pak Saddat. Terbayang pada wajahnya yang selalu dilumuri keceriaan. Wajah yang tak pernah ditutupi selaput kelelahan ataupun kebosanan melihat antrian dari pasien-pasiennya. Apa kabarmu, Pak Saddat? Besok siang di saat aku libur bekerja, aku akan mengunjungimu, bisik hatiku.

“Hus, aku dapat kabar. Pak Saddat sudah meninggal dunia tadi malam. Jasadnya sudah dikebumikan di pekuburan umum siang tadi,”seorang teman meneleponku. Jantungku serasa mau copot! Pak Saddat sudah meninggal? Padahal aku baru saja berencana untuk mengunjunginya besok! Air mataku begitu saja berhamburan keluar dari kelopak mataku.

Suatu hari, di ruangan praktek Pak Saddat, ada duka yang mendalam. Ada tangis dari orang-orang yang kehilangan. Satu hal yang mungkin tidak pernah terpikirkan di benak para pasien Pak Saddat, apalagi aku. Bahwa Pak Saddat yang ramah, luwes dan ceria akan dipanggil Tuhan, tanpa pernah meninggalkan tanda-tanda kepergiannya! Dua hari tubuhnya sakit dan tidak membuka praktek, pada malam jum’at selepas maghrib Pak Saddat menghembuskan nafas terakhirnya.

“Selamat jalan, Pak Saddat. Doa kami selalu menyertaimu…”bisikku parau di depan pusaranya.

***

Arisan

Pada Minggu ke tiga bulan ini, Pak Unan dan isterinya akan menggelar arisan di rumah mereka. Ketua arisan sudah mengumumkan, di rumah mereka giliran yang terakhir. Setelah ini akan dibuat format arisan baru lagi.

Beberapa waktu lalu, Pak Unan memang sedang memperbaharui beberapa bagian dari rumahnya. Makanya, ia menunda mengadakan arisan di rumahnya. Gilirannya itu diberikan kepada anggota yang lain.

Rumah mereka terbilang kecil. Warisan dari orang tua pak Unan.Untuk ukuran pak Unan sebagai pedagang, bisa menafkahi isteri dan ke empat anaknya sudah disyukurinya. Uang merenovasi rumah, hasil dari menjual sisa tanah milik orang tuanya.

Pak Unan dan isterinya pun saling berkompromi, menu masakan apa yang akan mereka suguhkan saat arisan nanti.

“Pak, bapak setuju, kalau ibuk masak nasi goreng saja? Ibuk akan buat yang enak lah. Tapi, apa bapak tidak malu menyuguhkan makanan yang seadanya? Coba ingat kalau arisan di rumah Kak Ana. Ada kari kambing, udang sambal, ikan panggang dan anyang. Pokoknya macam-macam lah.”

“Buk, buk. Ibuk harus tahu diri dong. Mana mungkin kita bisa buat makanan seperti itu? Kak Ana itu kan orang kaya, tidak kekurangan seperti kita. Lagian anaknya sudah setara dengan konglomerat,”Pak Unan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Bu Lina terdiam. Benar kata suaminya, kak Ana, sepupunya itu, memang orang kaya. Kalau giliran arisan di rumahnya, makanannya banyak sekali dan terkesan mewah. Namun bagi Bu Lina, tetap ada yang kurang dari semua itu. Rumah dan perabotan yang mewah, makanan yang enak-enak. Tapi tuan rumahnya sendiri minus keramahan. Khususnya untuk orang-orang yang berada di level menengah ke bawah seperti mereka.

“Hei, Buk. Kok malah bengong? Jadi, makanan apa yang mau kita siapkan untuk arisan nanti?”Pak Unan menepuk tangan isterinya.

Bu Lina berpaling ke arah suaminya.

“Seperti yang ibuk bilang tadi. Kita masak nasi goreng, pakai ayam semur. Ibuk akan sediakan juga air buah dan kue-kue. Itu saja sudah cukup ya, Pak. Praktis lagi.”

Pak Unan manggut-manggut setuju.

“Semoga aja banyak yang datang ya, Buk. Ini kan giliran terakhir di rumah kita. Lagipula rumah kita baru saja direnovasi, jadi kita agak pe-de mengundang orang ke rumah kita,”kata Pak Unan, lebih mirip sebuah doa.

Selama ini ia melihat kecenderungan, anggota arisan sudah melenceng dari prinsip dibentuknya arisan. Padahal yang ia tahu, arisan itu untuk mempererat silaturrahmi di antara para anggotanya. Para anggota arisan, yang masih merupakan kerabat dekat. Namun pada prakteknya, orang-orang seperti dirinya lebih sering dipinggirkan.

Bu Lina, tampaknya memahami apa yang sedang dipikirkan suaminya. Ia juga menyadari, beberapa kali arisan di rumahnya, tidak sebanding dengan kalau yang datang arisan ke rumah kak Ana. Tampak jelas ada perbedaan yang mencolok, yang secara tidak langsung disampaikan mereka.

Acapkali pula, pakaian yang mereka kenakan sewaktu datang ke arisan, terkadang lebih mirip perlombaan model pakaian terbaru. Bukan hanya pakaian, tapi perhiasan, bahkan mobil yang dipakai!

Saat acara arisan dimulai, kadang ada yang tidak sepenuhnya mengikuti acara. Sebagian asyik mengobrol di suatu tempat. Bahkan ketika ceramah dan doa dari seorang Ustadz, ada yang berbisik-bisik dan bercanda.

Sebenarnya, yang mereka sebut arisan itu seperti apa? Tidakkah mereka bisa bersikap wajar selama arisan berlangsung? Apakah mereka tidak malu kepada para leluhurnya, yang sudah membuat acara arisan dari sejak dahulu? Mengapa arisan zaman sekarang, berubah fungsi menjadi arena pamer baju, sepatu, perhiasan, bahkan mobil? Ah, orang seperti mereka pasti tidak akan tahan dengan model arisan seperti ini. Bu Lina dan Pak Unan berjalan dengan pikirannya sendiri.

***

Pak Unan melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir pukul tiga sore. Dari tadi ia duduk di kursi depan rumahnya. Anggota arisan belum ada yang datang. Padahal semestinya jam segini sudah mulai acara.

Tak berapa lama kemudian muncul Ketua arisan. Disusul beberapa anggota lainnya. Hati pak Unan pun senang. Ia dan isterinya mempersilahkan para tamunya masuk. Ketua arisan pun meminta, untuk segera memulai acara

Dari balik tirai pintu dapurnya, Bu Lina memperhatikan sebagian dari para tamunya. Ada kak Ani, kak Ida dan kak Lela. Ada juga kak Lia dan yang lainnya. Dia menghitung jumlah tamunya untuk mempersiapkan makanan dan minuman. Ia meringis sedih dalam hati, ketika menyadari banyak dari anggota arisan yang tidak hadir. Terutama kak Ana, yang memang ia ramalkan tidak mau datang.

“Memang kelewatan kak Ana itu ya, Yun. Mentang-mentang dia kaya, kok begitu sikapnya pada orang lain?”

Bu Lina mencari asal suara. Ternyata kak Ida dan kak Erni. Mereka sedang berbicara di halaman belakang rumahnya. Padahal di depan, acara sudah dimulai.

“Kau macam tak tahu kak Ana aja, Yun. Tapi kau jangan bilang-bilang sama si Lina ya. Aku nggak mau dia jadi tersinggung nanti,”pesan kak Ida.

“Katakan saja, Kak. Aku nggak bilang sama dia kok,”

“Masa dia bilang rumah si Lina nggak beraturan. Kamar mandi dan dapurnya jorok. Katanya, air minumnya berasal dari air sumur, agak berbau. Kalau dibuat teh manis, warnanya kayak air kencing kuda.”

“Yun, kalau kak Ana memang nggak mau datang karena alasannya itu, nggak masalah. Anehnya kenapa anggota yang lain juga tidak datang? Jangan-jangan mereka sudah termakan omongan dia, Yun!”

“Jadi maksud kak Ida, dia sama saja dengan Provokator!”

“Percuma aja dia itu haji, kelakuannya kayak gitu. Malah aku dengar dia sedang daftar tunggu, mau berangkat haji lagi tahun depan!”

“Mending kayak kita aja, kak. Dari pada sudah haji, tapi suka merendakahkan orang lain ,”keduanya menahan tawanya, tapi urung.

Bu Lina berdiri terpaku di balik pintu. Otaknya masih bisa merekam, apa yang barusan dia dengar dari sepupunya itu. Rumahnya sempit, kamar mandi dan dapurnya jorok. Air minumnya berbau. Makanan dan minumannya pun alakadarnya.

Bu Lina tersenyum meringis dalam hati. Begitukah pada umumnya orang-orang kaya seperti kak Ana memperlakukan orang seperti dirinya? Padahal ia masih tercatat kerabat dekat kak Ana. Bagaimana bila kak Ana memandang orang lain, yang lebih rendah perekonomiannya? Akankah lebih buruk lagi?

Dan Bu Lina yakin seyakin-yakinnya, tanpa ia mengatakan perihal ketidakhadiran kak Ana pada pak Unan, suaminya pasti sudah paham alasannya. Rasanya tidak perlu ia mengulang, apa yang telah ia dengar. Hanya menambah sakit hati suaminya. Ia tidak mau suaminya sampai terluka hatinya. Karena tujuan arisan, untuk mempererat tali silaturrahmi, bukannya memutuskan tali silaturrahmi!

Bagi Bu Lina, justru orang seperti kak Ana perlu dikasihani. Mungkin masih banyak orang kaya yang baik hatinya. Tidak memandang rendah orang lain. Lagipula, baginya rumahnya adalah laksana syurga buatnya dan keluarganya. Mau orang lain memandang sebaliknya, dia tak peduli!

***

Kamis, 02 Juli 2009

HIPOSPADIA

Reza masuk ke kamar mandi. Setelah membuka restleting celananya, lalu berjongkok mengeluarkan air seninya. Begitulah cara Reza bila sedang berkemih. Dengan berjongkok, seperti layaknya anak perempuan. Reza tidak mungkin melakukannya di luar rumah. Di alam terbuka. Apa kata teman-temannya nanti, bila tahu bagaimana sebenarnya Reza saat berkemih? Pasti teman-temannya akan menertawainya. Mengejek. Bahkan mengolok-oloknya sepanjang waktu.
Aku menarik nafas di balik pintu. Reza semakin besar. Sekarang dia sudah kelas lima SD. Semakin melihatnya tumbuh dan berkembang, semakin aku cemas akan dirinya dan masa depannya. Kalau dilihat dari kondisi fisiknya, tidak ada sesuatu yang membedakan Reza dari teman-teman sebayanya. Begitu juga dengan perkembangan kejiwaannya. Di balik itu, ada sesuatu yang diderita Reza. Posisi lubang keluar kencingnya berada di bagian bawah penis. Kalau berkemih dengan cara berdiri, air seninya akan berserakan.
Saat usianya masih hitungan bulan, kelainan itu kutemukan. Aku sama sekali tidak paham mengenai hal itu. Tidak juga pernah kudengar orang membicarakannya. Kuajak suamiku menemui seorang dokter ahli di Medan. Teryata Reza mengalami kelainan hipospadia.
Hipospadia adalah salah satu kelainan bawaan pada anak laki-laki yang sering ditemukan dan mudah untuk mendiagnosanya. Anak laki-laki lain kalau buang air kecil berdiri, sedangkan anak pengidap hipospadia harus jongkok seperti anak perempuan (karena lubang keluar kencingnya berada di sebelah bagian bawah penis atau di tengah penis, atau di batang kemaluan dan sebagainya). Harus dilakukan operasi, karena bila dibiarkan, setelah dewasa dia akan kesulitan untuk membahagiakan pasangan hidupnya, sebab penisnya memiliki chordae sehingga menyebabkan bengkok dan dari hari ke hari tidak memiliki perkembangan seperti lelaki normal pada umumnya.
“Tujuan utama penanganan operasi hipospadia adalah merekonstruksi penis menjadi lurus, sehingga aliran kencing arahnya ke depan. Operasi dilakukan dalam dua tahap. Setelah penis berhasil direkonstruksi menjadi lurus dan memobilisasi kulit untuk menutup bagian bawah penis. Tahap selanjutnya membuat saluran kencing (uretroplasty) enam bulan setelahnya. Doker akan menentukan teknik operasi yang terbaik. Satu tahap maupun dua tahap disesuaikan dengan kelainan yang dialami si anak. Ada baiknya dilakukan sebelum memasuki usia sekolah,”ujar dokter yang kami temui.
Maka, sejak Reza kecil kutanamkan pengertian yang mendalam tentang kelainan yang ada pada dirinya. Dia tidak boleh buang air kecil di depan teman-temannya, karena dia berbeda dari anak lelaki lainnya.
Pintu kamar mandi terbuka. Reza keluar dengan setengah berlari. Aku menghindar dari pandangan Reza, tidak ingin dia mempertanyakan mendung di wajahku. Kuamati geraknya sampai dia bergabung dengan teman-teman sebayanya di luar rumah.
Tak lama lagi, Reza akan menjalani operasi. Setelah beberapa tahun sempat tertunda, karena ketiadaan biaya. Suamiku hanya seorang karyawan biasa di sebuah perusahaan swasta dan aku mengambil upahan menjahit. Kami harus membiayai ke empat anak kami dengan penghasilan yang pas-pasan. Bagaimana mungkin kami dapat menyediakan uang untuk biaya mengoperasi Reza sebanyak dua tahap?
Setiap hari aku berusaha dan berikhtiar, sekiranya ada seorang dermawan yang mau membantu. Kutepiskan segenap rasa malu di hati, yang kupikirkan hanya bagaimana anakku dapat meraih sertifikat normal sebagai anak laki-laki. Aku selalu berdoa, semoga Tuhan mau memberikan pertolongan-Nya lewat tangan seorang dermawan kepada kami.
Tak dapat kuhalau rasa syukurku, ketika seorang dermawan mengulurkan tangannya. Kami bertemu dan berbicara panjang lebar mengenai rencana mengoperasi Reza. Ternyata Sang Dermawan adalah seorang penderita hipospadia di masa kecilnya. Dia ikut prihatin dengan apa yang menimpa Reza.
***
“Reza sayang, kau sudah siap, Nak? Operasi akan segera dimulai dan akan memakan waktu dua jam setengah. Kau baik-baik ya. Jangan lupa berdoa,”kataku sambil mengusap kepalanya dan mengecup keningnya lembut. Reza mengangguk. Suamiku dan ke tiga anakku ikut memberi semangat pada Reza.
Aku berusaha tersenyum di balik perasaan tak menentu yang menghuni hatiku. Reza, betapa tegar dia menghadapi meja operasi. Tidak tampak sedikitpun kekhawatiran di wajahnya. Sebaliknya, akulah yang tidak sanggup menahan perasaanku sejak mempersiapkan keberangkatannya ke rumah sakit. Air mataku terus saja keluar, meski suamiku berulangkali menghiburku.
Seperempat jam berlalu, mataku tak lepas menatap ke arah pintu ruang operasi. Jantungku berpacu lebih cepat. Keringat menetes di dahiku. Belum pernah aku merasa setegang ini. Terbayang wajah Reza. Matanya. Hidungnya. Senyumnya. Tiba-tiba aku merasa sangat takut kehilangannya!
“Di saat dia sedang berjuang di meja operasi untuk meningkatkan kualitas hidupnya, kau merasa takut kehilangannya. Dulu, bukannya kau ingin melenyapkannya, saat dia masih berupa janin di perutmu? Kau takut melahirkan anak laki-laki lagi, menyusul ke tiga abangnya. Ibu macam apa kau, Marni?”
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, mendengar suara dari dalam lubuk hatiku sendiri. Kututup wajah dan telingaku. Kutinggalkan ruang tunggu dengan seribu galau dan kecamuk perasaanku. Tak peduli pandangan heran dari suami dan ke tiga anakku. Aku terus berlari, sampai tubuhku tersenggol troly yang dibawa petugas rumah sakit. Aku terjatuh di lantai.
Bahuku berguncang seiring tangisanku. Aku terhempas ke masa lalu. Saat mengandung Reza. Entah setan mana yang merasuki pikiranku, sehingga aku meracuni diriku dengan berbagai cara, tapi janin itu tetap pada posisinya. Tidak mau pergi.
Seorang perempuan tua akhirnya menyadarkan aku dari kekeliruanku. Diajarkannya aku untuk menerima karunia yang dititipkan Tuhan buatku. Sesuatu yang bernyawa di dalam rahimku. Bahwa sebuah penghargaan akan selalu diberikan kepada seorang ibu, karena syurga berada di bawah telapak kaki ibu. Tentu, sebagai ibu yang baik aku harus menjaga janinku dengan baik, bukan malah menyingkirkan kesempatannya untuk hidup. Menghirup aroma dunia.
“Marni, kenapa kau meninggalkan ruang tunggu? Kau sakit?”suamiku menyusulku dan menggapai tubuhku. Dia terkejut melihat pucat di wajahku. Langsung aku dipeluknya dan diberinya ketenangan. Aku menangis lagi di dadanya. Dengan terbata kuceritakan apa yang kurasakaan saat ini. Kudengar helaan nafasnya, tapi matanya tetap menyorot lembut ke mataku.
“Memang kau pernah keliru ingin mengaborsi janin di rahimmu, Mar. Mungkin kau khilaf, karena tidak ingin anakmu yang lahir laki-laki lagi. Sementara keinginan terbesarmu melahirkan anak perempuan. Tapi bukankah kau sudah menyadari semua khilafmu? Kau menerima apapun jenis kelamin anak kita, karena dia buah cinta kita berdua. Cahaya hidup kita. Kau membesarkan Reza dengan kasih sayang dan cintamu. Bahkan kau tidak letih mencari seorang dermawan untuk membantu pembiayaan operasi Reza. Kau seorang ibu yang luar biasa, Mar. Kau tidak boleh sedih lagi,”aku mendongak dan kulihat wajah suamiku tersenyum. Aku menghapus air mataku dan berusaha tegar menunggu operasi Reza selesai.
***
Minggu pertama pasca operasi membutuhkan kesabaran penuh dariku. Aku terus berikhtiar untuk kesembuhan Reza. Membesarkan hatinya untuk mencapai kondisi yang lebih baik baginya nanti. Dia masih harus berbaring di tempat tidur. Setiap hari kuolesi penisnya dengan salep dan terus kupantau perkembangannya. Jangan sampai terjadi infeksi pasca operasinya, karena saat ini dia masih memakai kateter.
“Bila Reza banyak bergerak, dikhawatirkan selang kateternya akan tertekuk, sehingga saluran buntu. Akibatnya pada saat kencing, pancaran kencing menyembur keluar melalui sekitar selang. Harus dilihat pula, kalau di bagian atas luka ada nanahnya, harus dikompres dengan betadine dan rajin mengganti kasanya dua kali sehari dan jangan dibungkus bila nanah sudah agak berkurang.”kata dokter yang mengoperasi Reza.
Pesan dari dokter itu selalu kuingat dan menjadi pedoman buatku untuk merawat Reza sampai dia dinyatakan sembuh. Mungkin apa yang kulakukan sudah semestinya dilakukan oleh para ibu. Terlebih-lebih lagi aku, ibu yang pernah hampir membuat sebuah kesalahan besar dalam hidupku. Aku ingin Reza segera sembuh dan melihat dia tersenyum bahagia. Tidak lagi harus malu bila ingin berkemih. Aku ingin merawatnya, menyayanginya. Lebih dari yang apa pernah kuberikan selama ini padanya!
***